Category Archives: Cerpen

CINDERELLA KEDODORAN

Oleh: Prima Sagita

Kalau Cinderella yang di negeri dongeng itu karakternya lembut, pengalah dan pemalu. Beda sekali dengan yang ini. Ampyuun deh… garang sungguh! Gara-gara maminya terobsesi dengan tokoh cantik zaman beliau kecil dulu, jadilah putri semata wayang itu bernama Cinderella. Cuma satu hal persamaan antara Cinderella yang ini dengan yang di negeri dongeng itu, yakni sama-sama berhati baik.
Ella. Begitu ia biasa dipanggil. Papinya sudah lama meninggal karena kecelakaan pesawat terbang saat ia berumur 8 tahun. Setelah beranjak remaja, maminya menikah lagi dengan seorang pengusaha di bidang kontraktor dan memiliki dua gadis berusia tak jauh dengan Ella. Namanya Prita dan Sarah. Prita yang penakut dan Sarah yang periang menambah keharmonisan keluarga Mami Ella dan Papi tirinya yang sudah lama menjadi single parent.
Senang sekali mengebut dengan motor koplingnya yang besar dan trendy. Tentu pada jalur yang semestinya. Bukan di jalan raya dengan gaya ugal-ugalan dan membahayakan nyawa orang. “Mengebut itu panggilan jiwa!” katanya suatu hari pada dua adik tirinya saat mereka saling melakukan pendekatan. Prita dan Sarah hanya saling berpandangan cemas mendengar pernyataan kakak tirinya itu.
Suatu malam saat menolong Prita mengambil uang di ATM, Ella mengebut sepanjang jalan hingga menabrak seekor tikus got yang melintas.
“Ya Tuhan! Maafkan Kak Ella!” teriak Prita saat itu juga.
“Kenapa Prit?” Ella buru-buru mengurangi laju motornya.
“Kakak barusan nabrak tikus tuh, ngeri banget rasanya!”
“Lah, tikusnya dong yang salah, masa ada motor dia malah nyebrang?” jawab Ella santai.
“Yah, namanya juga binatang Kak, nggak punya otak,” Prita mengingatkan.
“Nah, makanya, jangan sampai kita nggak punya otak. Nanti kayak tikus,” sahut Ella.
“Looh, kok jadi gue yang diingetin? Yang ngebut kan Kakak,” protes Prita.
“Memang harus begitu kan? Saling mengingatkan…”
“Au’ ah elap!”
“Hahaa…”
***
Ogi dan Ersa, sahabat dekatnya di sekolah, seringkali menasehati supaya Ella mengganti jenis motornya yang lebih pantas buat seorang perempuan. Tapi…
“Nggak!” tolaknya ketus. “Hanya seorang pangeran yang bisa merubah kebiasaan gue kelak. Kalian diam sajalah, atauuu…!” Ella bernada meledek dua sahabat dekatnya itu.
“Iya deh, jangan! Jangan loe bosen nraktir kita yah…” Ersa memohon.
Sementara Ogi terlihat getok-getok meja sambil komat-kamit, “Jangan sampe… jangan sampe… tok tok tok tok tok tokkk!”
“Eh, tapi yang satu ini loe harus tau La, Rio si ketua OSIS ganteng itu besok sabtu ngadain acara puncak buat aktifis ekskul yang berprestasi,” kata Ersa penuh semangat.
“Trus apa hubungannya sama gue?”
“Ya, elo kan kemaren abis dapet perunggu di kompetisi Tae Kwon Do, pasti loe diundang. Dan yang lebih penting dari itu, loe bakalan klepek-klepek deh liat Rio!”
“Yang bener loe Sa?” Ella melotot.
“Potong kuku gue nih kalo omongan gue bohong!” kata Ersa meyakinkan.
“Iih, emang gue tukang salon? Ya udah, buruan kasih tau tampang si Rio yang kata loe ganteng itu!”
“Tuh, si Ogi suruh cari tau dulu, orangnya ada di ruang OSIS nggak?” usul Ersa.
Ella pun lalu menyuruh Ogi ke ruangan OSIS yang tak jauh dari kantin. “Kalo orangnya ada, loe jempolin kita dari sana ya!” pesan Ella pada Ogi yang terkadang bolot.
”Oke. Kalo nggak ada berarti kita balik ke kelas ya?” sambung Ogi polos.
“Eet dah, loe tanya dong sama yang di dalem ruangan itu, kemana tuh ketua OSIS, dasar bolot!” Ogi tak banyak kata, ia cepat meluncur mencari tahu.
Tak lama Ogi memberi jempol pada Ella, pertanda bahwa Rio berada di tempat. Ella dan Ersa langsung menghampiri ruangan itu. Keduanya agak sungkan, karena mereka sama sekali tak pernah berkunjung ke situ. Matanya mencari sosok Rio dari jendela. Mudahlah! Bukankah dia yang paling ganteng seruangan itu?
“Waduh, tu cowok bapaknya tukang bangunan juga apa ya?” seru Ella pelan.
“Kenapa La, loe kenal bapaknya? Bapaknya temen Papi loe?”
“Enggak, kok rasanya jantung gue ada traktor yang ngacak-ngacak nih!”
“Deeeu… kirain apaan.” Ersa mencibir.
“Trus trus… Emaknya yang buka salon di seberang sekolahan bukan, ya?” lanjut Ella.
“Kenapa lagi La? Loe pernah ke salon Emaknya?” tanya Ersa mengulang keluguannya.
“Enggak, kok hati gue rasanya jadi adem kayak rambut abis dicreambath gitu,”
“Hallah!” Ersa makin kesal.
“Ng… apa dia juga kerja sambilan di toko bunga ya?” lanjut Ella masih takjub.
“Koq dada gue berbunga-bunga nih,” kali ini Ersa langsung nangkep. “Prett! Norak loe ah!”
“Yeee, loe yang tega, masa baru bilang yang beginian sama gue? Dah sana, masuk duluan!” Ella memberi instruksi.
***
“Permisi… mau tanya dong, untuk kepastian acara puncak hari sabtu, apakah sudah positif?” tanya Ersa memberanikan diri ke dalam ruangan.
“Positif. Datang ya? Perwakilan dari ekskul apa nih?” si ganteng balik bertanya.
“Tae Kwon Do,” Ella membuka suara, disusul pandangan takjub Rio seketika.
“Oh… ng,” si ganteng membuka daftar aktivis ekskul di komputernya. “Cinderella ya?” tanya Rio ke arah Ella.
Yipppieee. Si ganteng menyebut namanya! Upst. Ella mendadak jaim sambil mengangguk kecil berulang-ulang.
“Wah, cantik! Sesuai namanya.” Wiiih, nggak nyangka si ganteng bilang begitu.
“Selamat ya!” Rio menyodorkan tangannya pada Ella. Tapi Ersa buru-buru nyerocos, “Eits… salamannya besok aja di panggung! Udah La, cabut yuk, makasih ya infonya!” Ersa menarik tangan Ella meninggalkan ruangan.
“Eh, buru-buru amat sih!” teriakan Rio tak dipedulikan Ersa yang sudah berhasil menarik Ella pergi. Tak lupa, Ogi membuntuti di belakang. Maklum, buntut!
Tepat di mading sekolah mereka berhenti, dan di situ ada pemberitahuan tentang malam apresiasi.
“Huuu, ngapain juga tadi tanya-tanya ke ruangan OSIS segala, di sini informasinya jelas kok!” Ogi memelototi pamphlet di hadapannya.
“Eh bolot, tadi kan demi memenuhi keinginan Cinderella tuuh…” Ersa masih sewot.
“Hussh, liat nih, acara malam apresiasi ada temanya! Bagi rekan-rekan yang hadir harap menggunakan kostum pesta. Ihh! Bukan gue banget deh,” Ella mendadak manyun.
“Walah! Tomboy kayak elo aja punya baju pesta! Hahaa…yang ada baju balapan!”
“Hhhh! Jangan salah loe… demi Rio, kayaknya sih bolehlah dicoba, toh badan gue nggak kalah ramping sama dua adik tiri gue yang biang pesta.” Iih… nggak mau modal.
***
“Prit, pinjem baju pesta dong!” Ella nyelonong masuk ke kamar adiknya.
“Boleh, ambil aja!” jawab Prita mempersilakan kakak tirinya memilih sendiri.
“Rok lebar selutut ini atasannya yang mana?” tanya Ella saat tertarik dengan satu model rok mini yang megar.
“Oh… itu, pakai ini!” Prita meraih stelan t-shirt dan sweater tipis. “Tapi kayaknya rok itu udah kendor karetnya Kak, harus dikencengin dulu!” usul Prita.
“Nanti dipenitiin aja lah… pake celana jeans cocok nggak nih? Gue kan naik motor!”
“Ya ampuuun, naik mobil dong Kak, sekali-kali!”
“Udah, loe tunjukkin aja celana yang pas buat gue pake, nggak usah usul yang lain-lain!” sahut Ella tegas.
“Hmmm, kalo celana, Sarah yang punya tuh, dia banyak koleksi legging! Gue mah nggak ada.”
“Bilangin Sarah gih, gue pinjem leggingnya gitu. Gue tunggu di kamar loe aja ya!”
Beuh… Kakak apa mandor? Untunglah Prita penurut. Ya, memang begitu yang disarankan Papinya, kalau mau akur sama Kak Ella ya harus menurut, termasuk disuruh anterin jaket-jaket dekilnya ke laundry! Alamak, kelewatan banget si Ella deh.
Akhirnya dapet juga stelan baju pesta. Lumayan… nggak perlu beli. Bukannya nggak ada uang bo! Mending buat beli bensin atau nraktirin dua kurcacinya di sekolah, hihiii. Dasaaarr Ella!
***
Lapangan olah raga yang berubah wujud menjadi ajang pentas apresiasi malam itu benar-benar semarak dengan penampilan seluruh penghuni sekolah yang berkostum pesta. Panggung sudah ramai dengan grup band yang unjuk kebolehan, melayani request penonton untuk membawakan lagu-lagu bertema ceria. Masih didampingi dua sohibnya, Ella duduk di barisan pinggir. Tiba-tiba Rio menghampiri.
“Halo tuan putri, kirain nggak dateng!”
“Eh, elo, kok sempet-sempetnya sih deketin kita? Bukannya ketua duduk di depan sana?” selak Ersa setengah teriak.
“Ohohooo, justru jadi ketua ya santai dong, semua panitia kan sudah bagi-bagi tugas sebelum hari H. Sekarang gue bebas mau ngapain aja!” Ella tak menggubris ucapan dua makhluk di depannya itu, sementara Ogi sedang tebar pesona di hadapan cewek-cewek lain.
Tapi mata Ella tak berhenti memperhatikan Rio yang terlihat aneh, seperti ada yang mau disampaikan. Kalau enggak, ngapain Rio ambil posisi duduk di dekatnya? Ya Tuhan, andai Ersa bisa tenang sedikiiiit aja! Biar Rio dapet kesempatan buat menyampaikan sesuatu.
“Cinderella…” bisik Rio mencuri kesempatan saat Ersa lengah.
Ella pun mendekatkan telinganya ke Rio di tengah suasana remang dan musik panggung yang amat bising.
“Nanti pulang bareng ya!” tawar Rio pelan. Ella membalas dengan gelengan kepala.
“Kenapa?” Rio merasa harga dirinya jatuh.
“Gue bawa motor.” Jawab Ella singkat.
“Nggak percaya!” balas Rio cepat.
“Hmmm… kebetulan motor gue dipasang alarm sama Papi, ini remotnya. Kalo nggak percaya, loe pencet sendiri dan arahkan ke parkiran sana!” Ella menyerahkan remot control motornya pada Rio.
Dengan penuh heran Rio meraih remot alarm yang disodorkan Ella. Ia menekannya dengan ragu. Tak lama terdengar nguing-nguing dari tempat parkiran dengan sinar lampu motor Ella yang berkelap-kelip.
“Gilaaa! Tiger 2000? pake alarm pula?!” Rio takjub seorang diri.
“Biasa aja dong, jangan pake melotot gitu!” gurau Ella.
“Enggak papa sih, sumpah gue kaget aja liat cewek secantik loe pake motor kopling. Apa nggak pegel?” tanya Rio di sisa-sisa ketakjubannya.
“Udah biasa kok. Kalo pegel-pegel tinggal suruh Mbok Nah pijitin,” jawab Ella santai.
“Waah, kapan-kapan pinjam Mbok Nah ya, boleh nggak?”
“Boleh… asal tahan banting aja loe!”
“Memangnya ada acara dibanting-banting?”
“Ya, begitulah. Karena beliau gue jadi berprestasi di Tae Kwondo. Medali di rumah sudah lengkap, ada emas, perak dan malam ini gue terima penghargaan di acara loe karena mendapat perunggu di kompetisi kemarin.”
“Hah! Itu mijit apa bertarung? Kok rusuh begitu?” sentak Rio.
“Hahahaaa…” Ella hanya membalas dengan khas tertawanya.
Rio memandang dalam-dalam gadis perkasa di sampingnya yang tampak anggun dengan kostum malam itu. Membuat Ella salah tingkah dan buru-buru menata duduknya sewajar mungkin.
“Kenapa si, ngeliatinnya kok gitu. Naksir?” Ella merasa bibirnya meluncurkan kata-kata begitu saja.
“Hehee. Kalo iya gimana?” Rio menjawab spontan sambil garuk-garuk.
“Kirim friend request !”
“Hahaaa… langsung diconfirm ya!”
“Siip lah !” keduanya tertawa lepas tak menghiraukan lagi wajah Ersa yang penuh tanda tanya melihat keakraban mereka berdua.
***
Puncak acara pun tiba. Rio mohon diri pada Ella untuk bersiap naik ke atas panggung. Masing-masing ekskul sudah dipanggil satu-persatu. Paskibra yang juara umum lomba Upacara, lalu KIR dengan prestasinya di ajang karya ilmiah, ada juga Himpunan pecinta alam yang memiliki tim panjat tebing terbaik dan beberapa ekskul lain dengan prestasi masing-masing, tak ketinggalan Ella mewakili ekskul Tae Kwon Do.
Seluruh aktifis calon penerima penghargaan telah memenuhi panggung. Tapi… kenapa tiba-tiba rok yang dipakai Ella merosot? Ah! Penitinya copot. Glekk! Duhai penitiii, di manakah gerangan dikau? Hiks! Ella mendadak pucat pasi. Untunglah ia berada di barisan terakhir. Rok yang tak bersahabat itu ditinggalkannya di atas panggung. Ia terjun turun dari belakang panggung. Nekat!
Dari jauh Ersa terbengong-bengong melihat Ella menghampirinya.
“Loh, kok turun? Piagamnya…” Ersa belum selesai bicara sudah ditarik Ella meninggalkan panggung.
“Kabur yuk! Rok gue kedodoran! untung gue pake leggingnya Sarah. Sial! Memalukan dunia Tae Kwon Do aja!”
Setelah semua perwakilan ekskul memperoleh piagam penghargaan, satu persatu mereka turun dari panggung. Dan sehelai rok pink tua menyala pun menjadi perhatian Rio yang turun belakangan.
“Hm, seperti pernah lihat rok ini. Tapi di mana ya?” Rio membolak-balikkan rok megar itu dan mengingat-ingat hingga kepalanya pening.
“Panitiaaa! Cari tau segera! Siapa pemilik rok iniii!”
Bwuahahahaaa…
–*selesai*–

Advertisements

Aku dan Kemat

“Din, tolong gantiin bapak kerja ya hari ini? Bapak tidak enak badan,” kata bapak yang berbaring di tempat tidurnya.

“Oh iya pak, bapak istirahat saja dulu biar Udin yang kerja hari ini,” jawabku sambil mulai menyiapkan semua perlengkapan kerja yang biasa dibawa oleh bapak.

Aku sendiri sudah sering menggantikan bapak bekerja jika bapak sedang lelah atau sakit seperti sekarang ini. Kami hanya hidup berdua semenjak ibu meninggal. Untunglah walaupun kehidupan kami susah aku masih bisa sekolah di SMP Terbuka Sinar Harapan.

“Kamu mangkal saja di tempat biasa, di situ ramai Din,” pesan bapak.

“Iya pak, Udin rencananya memang mau mangkal di sana saja,” aku menjawab.

Bapak membalasnya dengan anggukan. Aku mulai menyiapkan perlengkapan wajib saat bekerja seperti gendang kecil, sepeda mini, reog kecil, dan gerobak kecil. Aku menata semua perlengkapan itu dengan rapi di kotak yang akan aku bawa nanti. Capil (topi petani) yang menjadi ciri khas bapak dalam bekerja pun aku pakai. Tentunya aku tidak lupa membawa Kemat ikut serta. Kemat dibawa pulang oleh bapak sekitar 1 tahun yang lalu. Aku masih ingat ketika bapak dengan senyuman lebarnya membawa Kemat pulang.

“Punya siapa ini pak?” tanyaku.

“Ini punya bapak, bapak akan melatihnya biar bisa bantu bapak cari uang,” bapak menjelaskan dengan penuh semangat.

Selama hampir 6 bulan bapak melatih Kemat tiap hari. Aku pun diajaknya untuk melatih Kemat. Karena itulah aku menjadi akrab dengan Kemat. Jika ada waktu luang pasti aku bermain dengannya walaupun ia harus dirantai. Bapak tidak pernah mengijinkan aku melepas Kemat karena takut ia akan lari. Terkadang aku bawakan makanan kesukaannya juga.

”Ayo Kemat kita berangkat,” kataku sambil melepas ikatan Kemat.

”Nanti kamu harus beraksi dengan bagus biar penonton ngasih uang lebih,” tambahku lagi. Kemat hanya memandangiku sambil menggaruk bulunya.

Hari ini hari sabtu karena itu alun-alun kota sangat ramai. Bagi kami inilah kesempatan untuk meraup untung besar. Sesampainya di tempat biasa kami mangkal aku menaruh semua pelengkapan. Aku mengeluarkan kursi lipat dan gendang kecil yang merupakan senjata andalanku.

”Mat, kamu harus tampil bagus ya. Lihat banyak orang yang pingin lihat kamu beraksi,” kataku meyakinkan Kemat walaupun ia tak tahu apa maksudku. Lagi-lagi ia hanya memandangku seperti biasa.

Kupukul gendang itu dengan keras dengan nada yang diajarkan bapak. Kemat yang tadinya diam langsung tergugah oleh alunan itu. Ia bagaikan prajurit yang siap maju ke medan laga. Pengunjung alun-alun pun mulai memperhatikan kami. Topeng monyet memang hiburan yang sudah sulit dijumpai. Hanya sedikit orang yang mau bertahan karena pada akhirnya ia akan memjual monyetnya dan mencari usaha baru.

“Kemat pergi ke pasar!” teriakku.

Kemat langsung mengambil keranjang kecil dan menentengnya berlagak seperti orang kepasar. Kakinya melangkah sesuai dengan irama gendang yang bertalu-talu. Aku hanya terseyum melihat Kemat yang dengan lihainya memainkan peran demi peran. Reaksi anak-anak pun beragam, ada yang senang, tertawa, dan bahkan ada pula yang menangis ketakutan.

Menjelang Magrib aku dan Kemat mengakhiri pertunjukkan. Aku membawa Kemat menepi dan mencari tempat untuk beristirahat. Kukeluarkan semua hasil yang kuperoleh hari itu dan segera menghitungnya. Keringat dan rasa lelah tak lagi kurasa.

”50 ribu… 100 ribu… Wah 100 ribu Mat!” teriakku kepada Kemat.

Kemat tidak bereaksi. Ia hanya bersandar di atas kotak perlengkapan panggung kami. Kupikir Kemat lelah karena ia bermain bak anggota sirkus ternama. Buatku sendiri, uang 100 ribu sangatlah berarti karena hasil ini tidak seperti biasanya.

”Terima kasih ya Mat, nanti kubelikan pisang yang enak buat kamu,” Kataku tersenyum lebar sembari mengelus bulu halus Kemat. Aku bergegas melangkahkan kaki menuju rumah dan tak lupa membeli pisang untuk Kemat.

Sesampainya di rumah kuikatkan rantai Kemat dan kumasukkan Kemat ke dalam kotak kayu yang merupakan rumah sehari-harinya. Setelah itu segera kumasukkan beberapa buah pisang untuk makan malamnya. Aku melangkahkan kaki dengan cepat menuju rumah untuk memberikan hasil hari ini kepada bapak.

”Baru pulang Din?” tanya bapak.

”Iya pak, hari ini ramai banget. Ini hasil hari ini,” jawabku menggebu.

Bapak segera menghitungnya dengan seksama. Ia memilah uang kertas dan recehan itu sambil komat-kamit.

“Wah banyak juga Din hari ini,” jawab bapak senang.

“Iya pak, itu sudah kukurangi untuk membeli pisang buat Kemat,” kataku membalas senyuman bapak.

”Besok biar Udin yang kerja lagi pak,” tambahku semakin menggebu.

”Hmm… ya nggak apa-apa kalau kamu nggak capek,” kata bapak.

Aku menjawab dengan gelengan bahkan aku sudah tidak sabar menanti besok karena aku bisa bermain dengan Kemat, bermain sambil bekerja tepatnya. Aku berjanji dalam hati bahwa besok akan mendapatkan hasil banyak lagi kalau bisa lebih dari hari ini tentunya dengan bantuan Kemat. Malam itu aku tidur nyenyak sekali tak kurasakan lelah yang biasanya menyergap.

***

Mentari pagi menyingsing dengan indahnya seolah mendukung suasana hatiku yang gembira. Aku lebih senang lagi karena hari ini langit cerah, tak ada tanda-tanda akan turun hujan.

Aku memulai menyiapkan semua perlengkapan seperti kemarin. Tak lupa kukenakan capil kebanggaanku dan bapak di kala beraksi menghibur penonton. Setelah memastikan bahwa semua perlengkapan sudah kubawa aku bergegas menemui Kemat.

”Mat ayo kita berangkat dan beraksi seperti kemarin,” Perintahku sambil melepaskan rantai Kemat yang terikat di pohon.

”Mat…?” aku memanggilnya dengan tanda tanya karena ia tidak bergerak keluar seperti biasanya.

Segara saja aku melihat dan meraba kotak rumah Kemat itu. Kemat masih ada tapi anehnya badannya kaku dan dingin. Pisang kesukaannyapun tidak di sentuhnya sama sekali. Aku mundur beberapa langkah dan menjatuhkan kotak perlengkapan. Aku masih mengira dan tidak percaya.

”Ada apa Din?” bapak yang terkejut mendengar suara kotak perlengkapan topeng monyet bergegas keluar.

Aku tidak menjawabnya. Aku hanya terdiam, kakiku gemetaran, dan tubuhku lemas. Aku tak menjawab pertanyaan bapak karena aku mencoba menahan air mataku bahkan pandanganku mulai tidak jelas karena berkaca-kaca.

”Ada apa Din?” bapak mengulang kembali pertanyaannya.

Aku yang sudah tak kuasa menahan lelehan air mata akhirnya menjawab juga.   “Kemat mati pak…” jawabku datar.

“Apa? Kemat mati?” bapak yang masih berdiri di pintu rumah segera berlari menghampiri kotak rumah Kemat. Ia mencoba memastikan apakah Kemat benar-benar mati. Tak lama setelah memeriksa Kemat bapak menghela nafas dan mengangguk. Aku yang berdiri memperhatikan bapak bagai tersambar petir. Bagaimana mungkin Kemat meninggalkan aku secepat ini. Air mataku masih terus meleleh bahkan mengalir semakin deras.

“Sebentar bapak ambil cangkul kita kuburkan Kemat,” bapak melangkah dengan wajah dingin.

Aku segera melepas rantai yang ada di tubuh Kemat. Akhirnya aku berhasil menyentuh Kemat tanpa rantai namun di saat ia sudah mati. Kuangkat ia perlahan dan kubelai beberapa kali bulunya yang halus itu.

Beberapa saat kemudian bapak memanggilku karena lubang untuk Kemat sudah siap. Aku merasa berat melepas Kemat pergi karena ia sahabat baikku.

”Sudah Din, masukkan Kemat ke lubang.”

Aku yang masih bercucuran air mata segera memasukkan Kemat ke lubang itu hati-hati. Kulihat bulu halusnya tertimbun tanah basah perlahan hingga akhirnya tak nampak sama sekali.

”Direlakan saja Din, memang sudah waktunya,” jawab bapak setelah selesai menguburkan Kemat.

Bapak mungkin menyembunyikan kesedihannya. Bagi bapak Kemat adalah rekan kerja yang menghidupi keluarganya. Bapak bisa saja memcari Kemat lain besok tapi itu berarti bapak harus memulainya lagi dari awal.

Bagiku lebih dari itu. Selama 1 tahun ini Kemat adalah teman suka dan dukaku. Aku bisa bercerita apapun kepadanya. Ia sudah bagaikan seorang sahabat yang tak tergantikan lagi. Kini tak akan ada lagi Kemat yang piawai memainkan peran-perannya dan mengibur para penonton dengan atraksi-atraksinya.

 

* Salah satu cerpen hasil konsultasi Sekolah Menulis WR online

Anak Kedua

Hingga kakak perempuanmu menikah, saat itulah kau tulang punggung keluarga.

Aku terlahir sebagai anak kedua. Di keluarga sederhana ini, aku satu-satunya lelaki. Kakakku perempuan, adikku juga. Ada selisih tiga tahun antara aku dan kakakku. Dan beda sepuluh tahun antara aku dan adikku. Sebagai satu-satunya anak lelaki, aku justru merasa tak ada ubahnya seperti anak perempuan. Bukan karena sifatku yang sedikit kewanita-wanitaan, bahkan perawakanku kekar, lariku cepat, bakat dan minatku adalah sepakbola. Tapi aku selalu merasa menjalani kehidupanku di keluarga sebagai anak yang berjenis kelamin bukan seorang laki-laki.

Setiap kali ayah memintaku menolongnya membantu pekerjaan rumah ala lelaki, setiap itu pula aku malu karena tak ada yang bisa aku lakukan. Sekalinya ada kesempatan membantu, aku melakukan banyak kesalahan, ayah menyebutnya tidak sesuai dengan prosedur cara kerja para lelaki. Untuk menyembelih ayam misalnya, aku hanya mampu menjadi orang yang memegangnya. Itupun harus ditertawakan karena cara pegangku yang tidak benar.

“Tangan kananmu pegang kedua kakinya, tangan kirimu pegang erat sayapnya. Kalau kamu tidak pegang sayapnya, ayamnya pasti terbang. Hahaha.”

Kakek tertawa, ayah juga.

Untuk memotong kayu, entah mengapa tenagaku seperti air yang habis karena menguap. Tak tahan sebenarnya untuk merasakan hawa panas di telinga menerima sindiran dari kakek, dari ayah. Dengan mudahnya ayah memotong kayu-kayu itu, tapi aku?

Saat kakakku mulai masuki masa-masa kuliah, dengan mandiri dia cari sendiri tempat kosannya. Dan orang tua, entah mengapa tanpa ba-bi-bu mereka percaya dan setuju saja. Sepertinya kakak adalah seorang lelaki bertanggungjawab dan dapat dipercaya.

Tiga tahun kemudian, giliranku kini yang masuk kuliah. Sudah sebesar ini aku masih merasa sebagai anak perempuan. Tempat menginapku dipilihkan orang tua. Bukan kosan. Tapi tempat kenalan. Ya, ayahku punya banyak sekali kenalan. Termasuk di kota tempat aku kuliah. Di sanalah aku menginap. Aku tidak satu atap dengan teman-teman sesama jurusan seperti kakak dulu. Justru aku bersama dengan orang yang bagiku tidak beda seperti pengawas yang siap melaporkan setiap detik gerak-gerikku pada orang tua.

Aku dipingit, meski harus Read the rest of this entry

%d bloggers like this: