Aku dan Kemat

“Din, tolong gantiin bapak kerja ya hari ini? Bapak tidak enak badan,” kata bapak yang berbaring di tempat tidurnya.

“Oh iya pak, bapak istirahat saja dulu biar Udin yang kerja hari ini,” jawabku sambil mulai menyiapkan semua perlengkapan kerja yang biasa dibawa oleh bapak.

Aku sendiri sudah sering menggantikan bapak bekerja jika bapak sedang lelah atau sakit seperti sekarang ini. Kami hanya hidup berdua semenjak ibu meninggal. Untunglah walaupun kehidupan kami susah aku masih bisa sekolah di SMP Terbuka Sinar Harapan.

“Kamu mangkal saja di tempat biasa, di situ ramai Din,” pesan bapak.

“Iya pak, Udin rencananya memang mau mangkal di sana saja,” aku menjawab.

Bapak membalasnya dengan anggukan. Aku mulai menyiapkan perlengkapan wajib saat bekerja seperti gendang kecil, sepeda mini, reog kecil, dan gerobak kecil. Aku menata semua perlengkapan itu dengan rapi di kotak yang akan aku bawa nanti. Capil (topi petani) yang menjadi ciri khas bapak dalam bekerja pun aku pakai. Tentunya aku tidak lupa membawa Kemat ikut serta. Kemat dibawa pulang oleh bapak sekitar 1 tahun yang lalu. Aku masih ingat ketika bapak dengan senyuman lebarnya membawa Kemat pulang.

“Punya siapa ini pak?” tanyaku.

“Ini punya bapak, bapak akan melatihnya biar bisa bantu bapak cari uang,” bapak menjelaskan dengan penuh semangat.

Selama hampir 6 bulan bapak melatih Kemat tiap hari. Aku pun diajaknya untuk melatih Kemat. Karena itulah aku menjadi akrab dengan Kemat. Jika ada waktu luang pasti aku bermain dengannya walaupun ia harus dirantai. Bapak tidak pernah mengijinkan aku melepas Kemat karena takut ia akan lari. Terkadang aku bawakan makanan kesukaannya juga.

”Ayo Kemat kita berangkat,” kataku sambil melepas ikatan Kemat.

”Nanti kamu harus beraksi dengan bagus biar penonton ngasih uang lebih,” tambahku lagi. Kemat hanya memandangiku sambil menggaruk bulunya.

Hari ini hari sabtu karena itu alun-alun kota sangat ramai. Bagi kami inilah kesempatan untuk meraup untung besar. Sesampainya di tempat biasa kami mangkal aku menaruh semua pelengkapan. Aku mengeluarkan kursi lipat dan gendang kecil yang merupakan senjata andalanku.

”Mat, kamu harus tampil bagus ya. Lihat banyak orang yang pingin lihat kamu beraksi,” kataku meyakinkan Kemat walaupun ia tak tahu apa maksudku. Lagi-lagi ia hanya memandangku seperti biasa.

Kupukul gendang itu dengan keras dengan nada yang diajarkan bapak. Kemat yang tadinya diam langsung tergugah oleh alunan itu. Ia bagaikan prajurit yang siap maju ke medan laga. Pengunjung alun-alun pun mulai memperhatikan kami. Topeng monyet memang hiburan yang sudah sulit dijumpai. Hanya sedikit orang yang mau bertahan karena pada akhirnya ia akan memjual monyetnya dan mencari usaha baru.

“Kemat pergi ke pasar!” teriakku.

Kemat langsung mengambil keranjang kecil dan menentengnya berlagak seperti orang kepasar. Kakinya melangkah sesuai dengan irama gendang yang bertalu-talu. Aku hanya terseyum melihat Kemat yang dengan lihainya memainkan peran demi peran. Reaksi anak-anak pun beragam, ada yang senang, tertawa, dan bahkan ada pula yang menangis ketakutan.

Menjelang Magrib aku dan Kemat mengakhiri pertunjukkan. Aku membawa Kemat menepi dan mencari tempat untuk beristirahat. Kukeluarkan semua hasil yang kuperoleh hari itu dan segera menghitungnya. Keringat dan rasa lelah tak lagi kurasa.

”50 ribu… 100 ribu… Wah 100 ribu Mat!” teriakku kepada Kemat.

Kemat tidak bereaksi. Ia hanya bersandar di atas kotak perlengkapan panggung kami. Kupikir Kemat lelah karena ia bermain bak anggota sirkus ternama. Buatku sendiri, uang 100 ribu sangatlah berarti karena hasil ini tidak seperti biasanya.

”Terima kasih ya Mat, nanti kubelikan pisang yang enak buat kamu,” Kataku tersenyum lebar sembari mengelus bulu halus Kemat. Aku bergegas melangkahkan kaki menuju rumah dan tak lupa membeli pisang untuk Kemat.

Sesampainya di rumah kuikatkan rantai Kemat dan kumasukkan Kemat ke dalam kotak kayu yang merupakan rumah sehari-harinya. Setelah itu segera kumasukkan beberapa buah pisang untuk makan malamnya. Aku melangkahkan kaki dengan cepat menuju rumah untuk memberikan hasil hari ini kepada bapak.

”Baru pulang Din?” tanya bapak.

”Iya pak, hari ini ramai banget. Ini hasil hari ini,” jawabku menggebu.

Bapak segera menghitungnya dengan seksama. Ia memilah uang kertas dan recehan itu sambil komat-kamit.

“Wah banyak juga Din hari ini,” jawab bapak senang.

“Iya pak, itu sudah kukurangi untuk membeli pisang buat Kemat,” kataku membalas senyuman bapak.

”Besok biar Udin yang kerja lagi pak,” tambahku semakin menggebu.

”Hmm… ya nggak apa-apa kalau kamu nggak capek,” kata bapak.

Aku menjawab dengan gelengan bahkan aku sudah tidak sabar menanti besok karena aku bisa bermain dengan Kemat, bermain sambil bekerja tepatnya. Aku berjanji dalam hati bahwa besok akan mendapatkan hasil banyak lagi kalau bisa lebih dari hari ini tentunya dengan bantuan Kemat. Malam itu aku tidur nyenyak sekali tak kurasakan lelah yang biasanya menyergap.

***

Mentari pagi menyingsing dengan indahnya seolah mendukung suasana hatiku yang gembira. Aku lebih senang lagi karena hari ini langit cerah, tak ada tanda-tanda akan turun hujan.

Aku memulai menyiapkan semua perlengkapan seperti kemarin. Tak lupa kukenakan capil kebanggaanku dan bapak di kala beraksi menghibur penonton. Setelah memastikan bahwa semua perlengkapan sudah kubawa aku bergegas menemui Kemat.

”Mat ayo kita berangkat dan beraksi seperti kemarin,” Perintahku sambil melepaskan rantai Kemat yang terikat di pohon.

”Mat…?” aku memanggilnya dengan tanda tanya karena ia tidak bergerak keluar seperti biasanya.

Segara saja aku melihat dan meraba kotak rumah Kemat itu. Kemat masih ada tapi anehnya badannya kaku dan dingin. Pisang kesukaannyapun tidak di sentuhnya sama sekali. Aku mundur beberapa langkah dan menjatuhkan kotak perlengkapan. Aku masih mengira dan tidak percaya.

”Ada apa Din?” bapak yang terkejut mendengar suara kotak perlengkapan topeng monyet bergegas keluar.

Aku tidak menjawabnya. Aku hanya terdiam, kakiku gemetaran, dan tubuhku lemas. Aku tak menjawab pertanyaan bapak karena aku mencoba menahan air mataku bahkan pandanganku mulai tidak jelas karena berkaca-kaca.

”Ada apa Din?” bapak mengulang kembali pertanyaannya.

Aku yang sudah tak kuasa menahan lelehan air mata akhirnya menjawab juga.   “Kemat mati pak…” jawabku datar.

“Apa? Kemat mati?” bapak yang masih berdiri di pintu rumah segera berlari menghampiri kotak rumah Kemat. Ia mencoba memastikan apakah Kemat benar-benar mati. Tak lama setelah memeriksa Kemat bapak menghela nafas dan mengangguk. Aku yang berdiri memperhatikan bapak bagai tersambar petir. Bagaimana mungkin Kemat meninggalkan aku secepat ini. Air mataku masih terus meleleh bahkan mengalir semakin deras.

“Sebentar bapak ambil cangkul kita kuburkan Kemat,” bapak melangkah dengan wajah dingin.

Aku segera melepas rantai yang ada di tubuh Kemat. Akhirnya aku berhasil menyentuh Kemat tanpa rantai namun di saat ia sudah mati. Kuangkat ia perlahan dan kubelai beberapa kali bulunya yang halus itu.

Beberapa saat kemudian bapak memanggilku karena lubang untuk Kemat sudah siap. Aku merasa berat melepas Kemat pergi karena ia sahabat baikku.

”Sudah Din, masukkan Kemat ke lubang.”

Aku yang masih bercucuran air mata segera memasukkan Kemat ke lubang itu hati-hati. Kulihat bulu halusnya tertimbun tanah basah perlahan hingga akhirnya tak nampak sama sekali.

”Direlakan saja Din, memang sudah waktunya,” jawab bapak setelah selesai menguburkan Kemat.

Bapak mungkin menyembunyikan kesedihannya. Bagi bapak Kemat adalah rekan kerja yang menghidupi keluarganya. Bapak bisa saja memcari Kemat lain besok tapi itu berarti bapak harus memulainya lagi dari awal.

Bagiku lebih dari itu. Selama 1 tahun ini Kemat adalah teman suka dan dukaku. Aku bisa bercerita apapun kepadanya. Ia sudah bagaikan seorang sahabat yang tak tergantikan lagi. Kini tak akan ada lagi Kemat yang piawai memainkan peran-perannya dan mengibur para penonton dengan atraksi-atraksinya.

 

* Salah satu cerpen hasil konsultasi Sekolah Menulis WR online

Advertisements

About revosatu

kami adalah warga kampung writing revolution angkatan 01

Posted on April 14, 2011, in Cerpen. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: