Monthly Archives: April 2011

Aku dan Kemat

“Din, tolong gantiin bapak kerja ya hari ini? Bapak tidak enak badan,” kata bapak yang berbaring di tempat tidurnya.

“Oh iya pak, bapak istirahat saja dulu biar Udin yang kerja hari ini,” jawabku sambil mulai menyiapkan semua perlengkapan kerja yang biasa dibawa oleh bapak.

Aku sendiri sudah sering menggantikan bapak bekerja jika bapak sedang lelah atau sakit seperti sekarang ini. Kami hanya hidup berdua semenjak ibu meninggal. Untunglah walaupun kehidupan kami susah aku masih bisa sekolah di SMP Terbuka Sinar Harapan.

“Kamu mangkal saja di tempat biasa, di situ ramai Din,” pesan bapak.

“Iya pak, Udin rencananya memang mau mangkal di sana saja,” aku menjawab.

Bapak membalasnya dengan anggukan. Aku mulai menyiapkan perlengkapan wajib saat bekerja seperti gendang kecil, sepeda mini, reog kecil, dan gerobak kecil. Aku menata semua perlengkapan itu dengan rapi di kotak yang akan aku bawa nanti. Capil (topi petani) yang menjadi ciri khas bapak dalam bekerja pun aku pakai. Tentunya aku tidak lupa membawa Kemat ikut serta. Kemat dibawa pulang oleh bapak sekitar 1 tahun yang lalu. Aku masih ingat ketika bapak dengan senyuman lebarnya membawa Kemat pulang.

“Punya siapa ini pak?” tanyaku.

“Ini punya bapak, bapak akan melatihnya biar bisa bantu bapak cari uang,” bapak menjelaskan dengan penuh semangat.

Selama hampir 6 bulan bapak melatih Kemat tiap hari. Aku pun diajaknya untuk melatih Kemat. Karena itulah aku menjadi akrab dengan Kemat. Jika ada waktu luang pasti aku bermain dengannya walaupun ia harus dirantai. Bapak tidak pernah mengijinkan aku melepas Kemat karena takut ia akan lari. Terkadang aku bawakan makanan kesukaannya juga.

”Ayo Kemat kita berangkat,” kataku sambil melepas ikatan Kemat.

”Nanti kamu harus beraksi dengan bagus biar penonton ngasih uang lebih,” tambahku lagi. Kemat hanya memandangiku sambil menggaruk bulunya.

Hari ini hari sabtu karena itu alun-alun kota sangat ramai. Bagi kami inilah kesempatan untuk meraup untung besar. Sesampainya di tempat biasa kami mangkal aku menaruh semua pelengkapan. Aku mengeluarkan kursi lipat dan gendang kecil yang merupakan senjata andalanku.

”Mat, kamu harus tampil bagus ya. Lihat banyak orang yang pingin lihat kamu beraksi,” kataku meyakinkan Kemat walaupun ia tak tahu apa maksudku. Lagi-lagi ia hanya memandangku seperti biasa.

Kupukul gendang itu dengan keras dengan nada yang diajarkan bapak. Kemat yang tadinya diam langsung tergugah oleh alunan itu. Ia bagaikan prajurit yang siap maju ke medan laga. Pengunjung alun-alun pun mulai memperhatikan kami. Topeng monyet memang hiburan yang sudah sulit dijumpai. Hanya sedikit orang yang mau bertahan karena pada akhirnya ia akan memjual monyetnya dan mencari usaha baru.

“Kemat pergi ke pasar!” teriakku.

Kemat langsung mengambil keranjang kecil dan menentengnya berlagak seperti orang kepasar. Kakinya melangkah sesuai dengan irama gendang yang bertalu-talu. Aku hanya terseyum melihat Kemat yang dengan lihainya memainkan peran demi peran. Reaksi anak-anak pun beragam, ada yang senang, tertawa, dan bahkan ada pula yang menangis ketakutan.

Menjelang Magrib aku dan Kemat mengakhiri pertunjukkan. Aku membawa Kemat menepi dan mencari tempat untuk beristirahat. Kukeluarkan semua hasil yang kuperoleh hari itu dan segera menghitungnya. Keringat dan rasa lelah tak lagi kurasa.

”50 ribu… 100 ribu… Wah 100 ribu Mat!” teriakku kepada Kemat.

Kemat tidak bereaksi. Ia hanya bersandar di atas kotak perlengkapan panggung kami. Kupikir Kemat lelah karena ia bermain bak anggota sirkus ternama. Buatku sendiri, uang 100 ribu sangatlah berarti karena hasil ini tidak seperti biasanya.

”Terima kasih ya Mat, nanti kubelikan pisang yang enak buat kamu,” Kataku tersenyum lebar sembari mengelus bulu halus Kemat. Aku bergegas melangkahkan kaki menuju rumah dan tak lupa membeli pisang untuk Kemat.

Sesampainya di rumah kuikatkan rantai Kemat dan kumasukkan Kemat ke dalam kotak kayu yang merupakan rumah sehari-harinya. Setelah itu segera kumasukkan beberapa buah pisang untuk makan malamnya. Aku melangkahkan kaki dengan cepat menuju rumah untuk memberikan hasil hari ini kepada bapak.

”Baru pulang Din?” tanya bapak.

”Iya pak, hari ini ramai banget. Ini hasil hari ini,” jawabku menggebu.

Bapak segera menghitungnya dengan seksama. Ia memilah uang kertas dan recehan itu sambil komat-kamit.

“Wah banyak juga Din hari ini,” jawab bapak senang.

“Iya pak, itu sudah kukurangi untuk membeli pisang buat Kemat,” kataku membalas senyuman bapak.

”Besok biar Udin yang kerja lagi pak,” tambahku semakin menggebu.

”Hmm… ya nggak apa-apa kalau kamu nggak capek,” kata bapak.

Aku menjawab dengan gelengan bahkan aku sudah tidak sabar menanti besok karena aku bisa bermain dengan Kemat, bermain sambil bekerja tepatnya. Aku berjanji dalam hati bahwa besok akan mendapatkan hasil banyak lagi kalau bisa lebih dari hari ini tentunya dengan bantuan Kemat. Malam itu aku tidur nyenyak sekali tak kurasakan lelah yang biasanya menyergap.

***

Mentari pagi menyingsing dengan indahnya seolah mendukung suasana hatiku yang gembira. Aku lebih senang lagi karena hari ini langit cerah, tak ada tanda-tanda akan turun hujan.

Aku memulai menyiapkan semua perlengkapan seperti kemarin. Tak lupa kukenakan capil kebanggaanku dan bapak di kala beraksi menghibur penonton. Setelah memastikan bahwa semua perlengkapan sudah kubawa aku bergegas menemui Kemat.

”Mat ayo kita berangkat dan beraksi seperti kemarin,” Perintahku sambil melepaskan rantai Kemat yang terikat di pohon.

”Mat…?” aku memanggilnya dengan tanda tanya karena ia tidak bergerak keluar seperti biasanya.

Segara saja aku melihat dan meraba kotak rumah Kemat itu. Kemat masih ada tapi anehnya badannya kaku dan dingin. Pisang kesukaannyapun tidak di sentuhnya sama sekali. Aku mundur beberapa langkah dan menjatuhkan kotak perlengkapan. Aku masih mengira dan tidak percaya.

”Ada apa Din?” bapak yang terkejut mendengar suara kotak perlengkapan topeng monyet bergegas keluar.

Aku tidak menjawabnya. Aku hanya terdiam, kakiku gemetaran, dan tubuhku lemas. Aku tak menjawab pertanyaan bapak karena aku mencoba menahan air mataku bahkan pandanganku mulai tidak jelas karena berkaca-kaca.

”Ada apa Din?” bapak mengulang kembali pertanyaannya.

Aku yang sudah tak kuasa menahan lelehan air mata akhirnya menjawab juga.   “Kemat mati pak…” jawabku datar.

“Apa? Kemat mati?” bapak yang masih berdiri di pintu rumah segera berlari menghampiri kotak rumah Kemat. Ia mencoba memastikan apakah Kemat benar-benar mati. Tak lama setelah memeriksa Kemat bapak menghela nafas dan mengangguk. Aku yang berdiri memperhatikan bapak bagai tersambar petir. Bagaimana mungkin Kemat meninggalkan aku secepat ini. Air mataku masih terus meleleh bahkan mengalir semakin deras.

“Sebentar bapak ambil cangkul kita kuburkan Kemat,” bapak melangkah dengan wajah dingin.

Aku segera melepas rantai yang ada di tubuh Kemat. Akhirnya aku berhasil menyentuh Kemat tanpa rantai namun di saat ia sudah mati. Kuangkat ia perlahan dan kubelai beberapa kali bulunya yang halus itu.

Beberapa saat kemudian bapak memanggilku karena lubang untuk Kemat sudah siap. Aku merasa berat melepas Kemat pergi karena ia sahabat baikku.

”Sudah Din, masukkan Kemat ke lubang.”

Aku yang masih bercucuran air mata segera memasukkan Kemat ke lubang itu hati-hati. Kulihat bulu halusnya tertimbun tanah basah perlahan hingga akhirnya tak nampak sama sekali.

”Direlakan saja Din, memang sudah waktunya,” jawab bapak setelah selesai menguburkan Kemat.

Bapak mungkin menyembunyikan kesedihannya. Bagi bapak Kemat adalah rekan kerja yang menghidupi keluarganya. Bapak bisa saja memcari Kemat lain besok tapi itu berarti bapak harus memulainya lagi dari awal.

Bagiku lebih dari itu. Selama 1 tahun ini Kemat adalah teman suka dan dukaku. Aku bisa bercerita apapun kepadanya. Ia sudah bagaikan seorang sahabat yang tak tergantikan lagi. Kini tak akan ada lagi Kemat yang piawai memainkan peran-perannya dan mengibur para penonton dengan atraksi-atraksinya.

 

* Salah satu cerpen hasil konsultasi Sekolah Menulis WR online

Advertisements

Update Suasana Kampung

Beberapa waktu yang lalu Kampung Besar Writing Revolution dengan Kepala Kampung Pak Joni Lis Effendi dikelompokkan menjadi warga kampung kecil. Kurang lebih jumlah Kampung saat ini adalah 4 kampung termasuk kami warga kampung Writing Revolution 1 (angka 1 menunjukkan angkatan) yang berjumlah sekitar 53 orang. Program awal setelah terbentuknya kampung kecil WR adalah diadakannya pemilihan aparatur. Alhamdulilah program ini telah dilaksanakan disertai dengan pemilihan yang ketat dan panjang. Mengenai susunan aparatur kampung dapat dilihat pada posting sebelumnya (bahkan sudah pada mejeng semua aparaturnya di blog berkat Rik Sjp yang merupakan ketua suku WR1).

Program kedua yang alhamdulilah juga terlaksana adalah pembuatan blog khusus kampung kecil WR. Blog untuk WR1 adalah http://wr1.wordpress.com/. Blog ini didesain oleh saudara Asep Saeful Ulum yang merupakan anggota Kesi minat kepenulisan WR1. Tepuk tangan untuk saudara Asep karena sudah membuat tempat corat-coret untuk warga WR1.

Program ketiga yang masih dalam proses adalah rencana pembuatan antalogi (antalogi apakah itu?) eitss… itu masih sangat rahasia dan belum terpublikasi sama sekali. Program ini sendiri digagas oleh Ica alifah (Ica bdp) yang merupakan Kesi minat kepenulisan WR1. Sekedar pemberitahuan agar penasaran, program ini sedang “digodok” dengan matang. Rapatnya pun berlangsung sangat panas dan ramai sampai-sampai para aparatur WR 1 memanggil si empunya Kampung Besar tidak lain dan tidak bukan Pak Joni Lis Effendi untuk mencairkan kebingungan tersebut. Penasaran antalogi apa yang akan dibuat oleh Warga Writing Revolution 1? Tunggu saja tanggal mainnya hehehe.

Bagi teman-teman yang penasaran dan ingin ikut membangun misi Writing Revolution yaitu mencetak 1 juta penulis Indonesia 2025 sekaligus menikmati serunya menjadi warga kampung Writing Revolution (SMCO WR) silakan lihat infonya di www.menulisdahsyat.blogspot.com. Kami tunggu dan semoga akan banyak program tulis-menulis yang terealisasikan khususnya dari warga kampung WR 1. Hidup WR1!

 

Wassalamualaikum

Galeri Pejabat WR 01

Joni Lis EffendiJoni Lis Effendi :  Selalu terbuka untuk persahabatan

Kepala Suku Writing Revolution (WR)

 

Rik SjpRik Sjp : ku eratkan genggaman, ku kuatkan pijakkan, ku dengarkan nyanyian semesta dan berteriak selantangnya,, AKU BISA!!!!! (my motto for life)

Ketua RT WR 01

Edelwise Ayyesha TsurayyaEdelwise Ayyesha Tsurayya : ‘be like a bee,, fly like butterfly’

Sekretaris WR 01

Kun Sila AnandaKun Sila Ananda : “I am easy to look at, but so hard to see….”

Bendahara WR 01

Phoenix WibowoPhoenix Wibowo : An attractive young women, humble, full of lile

Kesi Sastra & Kebahasaan WR 01

Andri SuryaAndri Surya : Menulis selalu membuatku ingin bangun tiap harinya karena akan selalu banyak kisah yang bisa diabadikan melalui kata

Anggota Kesi Sastra & Kebahasaan WR 01

Gagas Tri AnggoroGagas Tri Anggoro : Tidak semua orang yang berusaha akan sukses….
TAPI… semua orang sukses berasal dari orang yang berusaha….

Anggota Kesi Sastra & Kebahasaan WR 01

Prima SagitaPrima Sagita : think hard.. pray hard..

Kesi Bakat Kepenulisan WR 01

Putri UtamiPutri Utami : apapun di dpn kita,, hrus ttp smngat n trsenyum.. jdi,,
SEMANGAT YA….!!!

Anggota Kesi Bakat Kepenulisan WR 01

Nur Aisyah SiregarNur Aisyah Siregar : Simple, suka persahabatan, cinta keluarga en moody

Anggota Kesi Bakat Kepenulisan WR 01

Ica BdpIca Bdp : Kekuatan orang2 sederhana hanya bermimpi dan mengupayakan mimpinya menjadi nyata… SmangatZ….!

Kesi Minat Kepenulisan WR 01

Asep Saeful UlumAsep Saeful Ulum : Pantang bicara tanpa ilmu

Anggota Kesi Minat Kepenulisan WR 01

Ellyca SusetyoEllyca Susetyo : yg tw km+jalanin khdpanmu tu km….bkan dia, mreka, atw org lain…..jadi slow down baby….

Anggota Kesi Minat Kepenulisan WR 01

‘be like a bee,, fly like butterfly’putri abung bunga mayang :) )
(dalam pencarian jejak leluhur) 

Quote Menulis 7 April 2011

Menulis selalu membuatku ingin bangun tiap harinya karena akan selalu banyak kisah yang bisa diabadikan melalui kata -Andri Surya-

writing is not my hobby it’s part of my life -Jonru-

Aku menulis bukan karena tuntutan, tapi karena seruan suara hati, oleh karena itulah aku akan tetap menulis, meskipun aku tidak akan jadi penulis -Rik Sjp-

Menulis mengajarkan kita cara untuk menghadapi hidup, ketika kita menulis berarti kita telah belajar untuk menyikapi keadaan -Silfia Elly Oktaviani-

FUN-TASTIC FOUR

Siapa bilang empat itu angka sial? Buktinya gue baik-baik aja ngehabisin waktu di sekitaran angka empat. Gue, Ticil, Awa, dan Alin memopulerkan diri sebagai fun-tastic four. Mereka bertiga cewek, gue sendiri yang cowok. Tiap ada tugas kuliah yang musti berkelompok, kita pasti jadi satu. Keseringan gabung sama mereka bikin ikatan batin gue berubah dari teman menjadi sahabat.
Ticil kecil, Awa ketawa, Alin nyalin, gue debat. Sifat-sifat itu gue kira cukup buat ngebayangin siapa kita.

Bagi gue, bersahabat itu bukan sekedar lo manfaatin keberadaan mereka di samping lo hingga lo dengan bebas berbuat seenaknya ke mereka. Nggak! Bagi gue sahabat itu miniature kecil masyarakat di luaran kampus sana. Seberapa sabar gue menghadapi masyarakat setelah gue gak ngampus lagi, diukur dari seberapa sabar gue berada di sekitaran sahabat-sahabat gue. Seberapa peka gue sama masyarakat, bisa dilihat dari seberapa sensitive gue ngeliat sahabat-sahabat gue.

Gue yakin tiap kita punya pengalaman yang berbeda dalam bersahabat. Tapi bagi gue, ilmu hidup di masyarakat Cuma bisa didapat dari sahabat-sahabat gue. Gue gak mungkin bisa toleransi di masyarakat kalo gue nggak punya sahabat.
Maka angka empat bagu gue bukan soal sial atau mati. Tapi tentang sahabat, ilmu, dan hati. Dari angka empat gue punya nama sahabat, dari sahabat gue dapet ilmu banyak, dan dari ilmu itu gue bisa jadi lebih peka soal hati. Karena, orang kedua yang punya peran besar atas kesuksesan hidup lo setelah orang tua, bagi gue adalah sahabat-sahabat lo sendiri.

Mereka lah orangnya.

Anak Kedua

Hingga kakak perempuanmu menikah, saat itulah kau tulang punggung keluarga.

Aku terlahir sebagai anak kedua. Di keluarga sederhana ini, aku satu-satunya lelaki. Kakakku perempuan, adikku juga. Ada selisih tiga tahun antara aku dan kakakku. Dan beda sepuluh tahun antara aku dan adikku. Sebagai satu-satunya anak lelaki, aku justru merasa tak ada ubahnya seperti anak perempuan. Bukan karena sifatku yang sedikit kewanita-wanitaan, bahkan perawakanku kekar, lariku cepat, bakat dan minatku adalah sepakbola. Tapi aku selalu merasa menjalani kehidupanku di keluarga sebagai anak yang berjenis kelamin bukan seorang laki-laki.

Setiap kali ayah memintaku menolongnya membantu pekerjaan rumah ala lelaki, setiap itu pula aku malu karena tak ada yang bisa aku lakukan. Sekalinya ada kesempatan membantu, aku melakukan banyak kesalahan, ayah menyebutnya tidak sesuai dengan prosedur cara kerja para lelaki. Untuk menyembelih ayam misalnya, aku hanya mampu menjadi orang yang memegangnya. Itupun harus ditertawakan karena cara pegangku yang tidak benar.

“Tangan kananmu pegang kedua kakinya, tangan kirimu pegang erat sayapnya. Kalau kamu tidak pegang sayapnya, ayamnya pasti terbang. Hahaha.”

Kakek tertawa, ayah juga.

Untuk memotong kayu, entah mengapa tenagaku seperti air yang habis karena menguap. Tak tahan sebenarnya untuk merasakan hawa panas di telinga menerima sindiran dari kakek, dari ayah. Dengan mudahnya ayah memotong kayu-kayu itu, tapi aku?

Saat kakakku mulai masuki masa-masa kuliah, dengan mandiri dia cari sendiri tempat kosannya. Dan orang tua, entah mengapa tanpa ba-bi-bu mereka percaya dan setuju saja. Sepertinya kakak adalah seorang lelaki bertanggungjawab dan dapat dipercaya.

Tiga tahun kemudian, giliranku kini yang masuk kuliah. Sudah sebesar ini aku masih merasa sebagai anak perempuan. Tempat menginapku dipilihkan orang tua. Bukan kosan. Tapi tempat kenalan. Ya, ayahku punya banyak sekali kenalan. Termasuk di kota tempat aku kuliah. Di sanalah aku menginap. Aku tidak satu atap dengan teman-teman sesama jurusan seperti kakak dulu. Justru aku bersama dengan orang yang bagiku tidak beda seperti pengawas yang siap melaporkan setiap detik gerak-gerikku pada orang tua.

Aku dipingit, meski harus Read the rest of this entry

Menulis adalah

Menulis adalah soal ketekunan, kerja keras, terus berlatih,
keberanian mempublikasikan karya dan kesabaran dalam
berproses serta tidak cepat puas

Nama Facebook Warga Kampung WR01

Berikut adalah nama akun facebook warga kampung WR01 :

  1. Andri Surya
  2. Anita Dian Anggraini
  3. Aray Pujangga
  4. Arey Arif Budiman
  5. Arfi Koguci
  6. Ariez T’neloned
  7. Arni Novisda
  8. Asep Saeful Ulum
  9. Aulya Afifah
  10. Ayumi Maulida
  11. Bella Oktaviana
  12. Dhieny Megawati
  13. Dieka Ajeng Fortuna
  14. Dyah Ratnasari Mrz
  15. Edelwise Ayyesha Tsurayya
  16. Ellyca Susetyo
  17. Epha Amore
  18. Fahrun Nisza
  19. Faiz Ezra
  20. Gagas Tri Anggoro
  21. Gita Cahya Pertiwi
  22. Grace Maria Ulfa
  23. Ica Bdp
  24. Inggar Saputra
  25. Juli Trisna Aisyah Sinaga
  26. Khairus Syifa
  27. Kun Sila Ananda
  28. Lina Li
  29. Luthfiana Izza
  30. Marsya Sinarani
  31. Mayangsari Vitaism
  32. Merry Wulan Uchan
  33. Niken Larasati
  34. Nur Aisyah Siregar
  35. Okti Li
  36. Phoenix Wibowo
  37. Prima Sagita
  38. Putri Utami
  39. Rani Ds Widadi
  40. Reza Chrisnamurti
  41. Riki Tristanto
  42. Rik Sjp
  43. Rizal Islami
  44. Septra Raizen Nopika
  45. Shitie Fatimah Maniezz
  46. Silfia Elly Oktaviani
  47. Ummi Miliknya Sasyaimout
  48. Va Ayana Lubis
  49. Vaizal Asy’ari
  50. Yeni Pronita
  51. Yuita Arum Sari
  52. Yunfika Rahmi
  53. Zee Zahrotusti’anah

Struktur Pemerintahan RT01 Kampung Writing Revolution

Ketua RT : Rik Sjp

Sekte WR 01 : Mak Edelwise Ayyesha Tsurayya

Bete WR 01 : Kun Sila Ananda

Kesi Sastra dan Kebahasaan WR 01 : mbak Phoenix Wibowo
dengan anggota,

  1. Andri Surya
  2. Gagas Tri Anggoro

 

Kesi Bakat Kepenulisan WR 01 : mbak Prima Sagita
dengan anggota,

  1. Putri Utami
  2. Nur Aisyah Siregar

 

Kesi Minat Kepenulisan WR 01 : mbak Ica Bdp
dengan anggota,

  1. Asep Saeful Ulum
  2. Ellyca Susetyo

 

Lalu, apa saja program kerjanya? Tunggu tanggal mainnya. (as).

%d bloggers like this: