Pameran Buku Juni 2012: Mimpi Kinanti

Semangat Pagi dan Semangat Menulis!

Mimpi Kinanti

Mimpi Kinanti

It’s June, berarti saatnya Pameran Buku WR I mejeng di blog keren ini. Sudah ada 2 buku keren yang dibahas oleh tim Revo Satu di bulan April dan Mei lalu. Kali ini buku siapa lagi ya? Daripada penasaran mending langsung saja kita pamerin salah satu buku karya warga WR I.

Kalau warga WR tahu tentang seorang cewek yang sudah terkenal dengan sebutan penulis dengan modal jempol pasti tahu buku siapa yang akan kita bahas di edis kali ini. That’s Right! kali ini tim Revo Satu akan mengupas tuntas salah satu karya Okti Li.

Karya dari Mbak yang satu ini sudah lumayan banyak baik antologi keroyokan dan novel solonya. Tim Revo Satu tertarik untuk tanya-tanya soal novel solo penulis yang berjudul ”Mimpi Kinanti”. Sebenarnya apa mimpinya? Dan siapa itu Kinanti? Yuk simak hasil investigasi tim Revo Satu berikut ini.

Novel yang kisahnya berliku dan seru ini mulai dikerjakan penulis sekitar Januari 2011. Menariknya, novel ini hanya dikerjakan selama satu bulan saja, wow! Oh ya, mungkin ada yang belum tahu kenapa penulis dijuluki penulis dengan modal jempol? Karena dulu, proses menulis hanya dia lakukan hanya melalui media Hand Phone (kebayang tuh gimana keritingnya jempol). Nah, novel Mimpi Kinanti ini juga dikerjakan menggunakan HP dan terbukti penulis bisa menyelesaikannya cukup 1 bulan saja. Hal ini membuktikan bahwa jadi penulis harus memiliki semangat yang tinggi. Okti Li membuktikan bahwa keterbatasan peralatan tidak mengendurkan niatnya untuk menulis.

Novel ini sendiri bercerita mengenai seorang TKW yang berusaha menjadi model. Karakter tokoh utama dari novel ini tomboy dan dengan ketomboyannya itu si tokoh utama bisa menjadi model. Namun, menjadi model bukan lantas membuat hidupnya bahagia. Bahkan, sifatnya yang tomboy menjadi bumerang bagi dirinya. Belum lagi saingannya sesama model yang naksir dengan cowok si tokoh utama tersebut selalu mencari gara-gara dan berusaha menjatuhkannya. Wah, gimana tuh kisah lengkapnya ya?

Setiap kali mencari informasi kepada penulis, tim Revo Satu selalu menanyakan mengenai ide kreatif dalam penulisan novel atau antologi mereka. Sama halnya dengan penulis yang satu ini, ide novel Mimpi Kinanti mengalir begitu saja. Tiap ada ide langsung ia tuliskan hingga tuntas. Konflik dalam novel ini juga dipikirkan oleh penulis secara matang sehingga memiliki unjung cerita yang menghentak.

Ada sedikit tips dari Okti Li jika kita menulis melalui media HP. Tulis saja ide sedikit demi sedikit lalu sambungkan nanti saat ada kesempatan baru dipindah ke komputer. Filosofi sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit terbukti benar adanya karena penulis berhasil menyelesaikan novel ini hanya melalui HP-nya yang katanya sudah jadul pula.

Berbicara soal kebiasannya menulis melalui HP, tim Revo Satu mencoba menanyakan soal pengalaman yang paling berkesan saat menggarap Novel Mimpi Kinanti. Sambil sedikit senyum penulis menceritakan pengalaman yang tidak mungkin ia lupakan. Jadi ceritanya saat novel ini ditulis, penulis masih berada di Taiwan dan saat itu sangat sibuk karena sedang ada perayaan Imlek. Karena penulis ingin sekali novel ini selesai maka ia berusaha untuk tetap konsisten menulis sesibuk apapun. Lucunya, entah karena tidak sadar atau kurang konsentrasi, penulis mengira ia sedang menulis SMS dan saat selesai menulis….sent…. wah….wah…. Karena sudah jadi beberapa lembar jika dipindah di kertas A4 otomatis tulisan itu menjadi berpuluh-puluh SMS dan sudah benar-benar terkirim! Penulis sadar ketika ia tidak bisa melakukan panggilan padahal tadinya pulsa masih ada. Kemudian ada SMS bernada protes dari temannya karena ada pesan masuk yang panjang banget sampai membuat memori SMS HP-nya pending karena kepenuhan! (sabar ya… lumayan bisa baca novelnya gratis).

Dengan kegigihan dan kengototan penulis untuk menyelesaikan Mimpi Kinanti tentu ada pesan yang ingin dia sampaikan. Menurutnya, kisah ini adalah kisah mengenai TKW yang punya cita-cita tinggi dan dengan kisah ini Okti Li ingin mengajak pembaca untuk bersungguh-sungguh dalam meraih mimpi itu karena dengan modal kesungguhan niscaya kita akan berhasil. Selain itu, penulis juga ingin mengajak para pekerja migran untuk menjadi pekerja yang legal walaupun godaan menjadi pekerja yang legal itu sangat berat.(ASP)

Wow! Seru banget kan Pameran Buku WR I edisi kali ini? Ada pengalaman seru dan cara unik seorang penulis menyelesaikan tulisannya. Bagaimana dengan warga WR? Pengalaman seru apa yang tidak akan kalian lupakan saat menyelesaikan tulisan kalian? Tuliskan saja dalam diary siapa tahu nanti bisa jadi tulisan yang utuh atau bahkan diterbitkan.

Simak terus Pameran Buku WR I karena setiap bulannya akan ada cerita-cerita seru dibalik penulisan sebuah karya.

Semangat Pagi dan Semangat Menulis!

Pameran Buku Mei 2012: Gadis Silayang-Layang

Semangat Pagi dan Semangat Menulis untuk Warga WR!

Tak terasa “Pameran Buku WR I” memasuki edisi kedua. Setelah bulan lalu tim Revo Satu mengulas sedikit mengenai buku Pelangi Abu-Abu karya Rik Sjp (bagi yang ingin tahu klik di sini) kini kita akan kembali memamerkan buku milik warga WR I. Nah, penasaran buku siapa yang akan diulas pada edisi kali ini?

Clue untuk edisi kali ini adalah penulis tersebut seorang cewek, masih terhitung remaja, dan sudah menerbitkan antologi solo. Siapa cewek yang dimaksud? Ya! Dialah Va Ayana Lubis.

Tim Revo Satu berhasil mengulik cerita dibalik penulisan antologinya yang berjudul Gadis Silayang-layang. Antologi ini merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh penulis sendiri (antologi solo). Bagi remaja khususnya remaja cewek yang sedang ngebet baca buku baru maka buku ini bisa dimasukkan dalam keranjang belanjaan. Tentunya, ini karena penulisnya yang juga masih remaja, cewek tulen, dan tokoh-tokoh utama yang ada dalam antologi tersebut.

Menurut penulis sebagian besar tokoh utama dari kumpulan cerpen ini adalah remaja cewek. Ya….ya….kalau kita membahas soal remaja pastilah tidak ada habisnya. Banyak sekali topik yang bisa dibicarakan menyangkut remaja. Va mencoba mengeksplor topik-topik seputar remaja yang ia tuangkan dalam cerpen-cerpen tersebut. Cinta, keluarga, dan hubungan sosial menjadi ide utama dari kumpulan cerpen ini. Untuk memberikan sensasi kesegaran maka penulis juga menyisipkan cerpen remaja dengan tema humor. Pastinya, remaja tidak hanya galau-galauan semata namun juga kocak, kreatif, dan penuh ambisi.

Salah satu keunikan dari kumpulan cerpen Gadis Silayang-Layang adalah mengenai jumlah cerpennya. Ada apa gerangan dengan jumlah cerpennya? Dalam buku ini ada 19 cerpen dan selidik punya selidik ternyata angka 19 bukan karena penulis hanya memiliki stok 19 cerpen tapi karena saat itu usianya baru 19 tahun dan ia mencoba menyamakan usianya dengan jumlah cerpen yang disusun (kreatif, kan?).

Tim Revo Satu sedikit usil menanyakan mengenai cerpen mana yang menjadi favorit penulis. Alhasil, penulis sedikit mengerutkan dahi untuk berpikir sejenak. Sebenarnya semua cerpen yang ada di dalam antologi ini adalah favorit penulis tapi ada satu judul yang paling mengena di hatinya. Judul cerpen itu adalah Acting Bapak. Mengapa cerpen ini sangat berkesan bagi penulis? Ternyata cerpen ini adalah kisah pribadi penulis dengan bapak dan ibunya. Ia mengaku tak akan melupakan kenangan tersebut sehingga ia abadikan dalam sebuah cerpen. Wah, seperti apa itu ya kisahnya?

Selain membahas soal karya, tim Revo Satu juga mendapat bocoran tips menulis ala Va Ayana Lubis. Tips ini sangat berguna kalau kita ingin menerbitkan antologi solo seperti antologi Gadis Silayang-Layang ini.

Pertama, soal pencarian ide yang seringkali mampet di tengah jalan. Cara mudah yang diterapkan penulis adalah dengan menggali lebih dalam kehidupan pribadinya. Cara ini akan memudahkan kita karena kita sendiri yang mengalaminya. Selain itu, kita juga bisa mengeksplor kehidupan sehari-hari (ide nggak bakal mampet deh!).

Kedua, tulis kemudian simpan. Ya! Tulis saja ide-ide tersebut menjadi cerpen walaupun tidak berencana mengirimkannya nanti jika sudah ada waktu yang pas bisa diterbitkan menjadi antologi, kan? Sebagian dari cerpen yang ada dalam antologi ini juga merupakan stok lama penulis semasa SMA yang kemudian ia edit kembali. Walaupun stok lama namun tetap dengan kualitas yang prima. Buktinya, antologi terbitan Desember 2011 ini mejeng di link buku rekomendasi di website penerbitnya.

Ketiga, harus terus celingak-celinguk melihat event. Yups! ini penting khususnya kalau kita ingin menerbitkan buku melalui penerbit self publishing. Seperti yang dilakukan oleh penulis sendiri dimana ia mengambil kesempatan penerbitan kolektif yang digagas oleh Writing Revolution, tempat penulis menimba ilmu yang biayanya lebih rendah dibanding biaya biasanya.

Bocoran judul-judul yang ada dalam antologi Gadis Silayang-Layang:
– Gadis Silayang-Layang
– Aurophobia Mendapat Cinta
– Devi dan Sahabatku
– Acting Bapak
– Dll (baca di bukunya ya ^_^)

Wah, seru banget kan pameran buku WR I edisi kali ini? Ada bonus tips dari penulisnya juga yang bisa diterapkan kalau berniat menerbitkan antologi. Nah, pastikan warga WR semua membaca Pameran buku WR I setiap bulannya karena ada buku, novel, atau antologi dari warga WR I yang akan dipamerkan yang pastinya lebih seru. (ASP)

Semangat Pagi dan Semangat Menulis!

CINDERELLA KEDODORAN

Oleh: Prima Sagita

Kalau Cinderella yang di negeri dongeng itu karakternya lembut, pengalah dan pemalu. Beda sekali dengan yang ini. Ampyuun deh… garang sungguh! Gara-gara maminya terobsesi dengan tokoh cantik zaman beliau kecil dulu, jadilah putri semata wayang itu bernama Cinderella. Cuma satu hal persamaan antara Cinderella yang ini dengan yang di negeri dongeng itu, yakni sama-sama berhati baik.
Ella. Begitu ia biasa dipanggil. Papinya sudah lama meninggal karena kecelakaan pesawat terbang saat ia berumur 8 tahun. Setelah beranjak remaja, maminya menikah lagi dengan seorang pengusaha di bidang kontraktor dan memiliki dua gadis berusia tak jauh dengan Ella. Namanya Prita dan Sarah. Prita yang penakut dan Sarah yang periang menambah keharmonisan keluarga Mami Ella dan Papi tirinya yang sudah lama menjadi single parent.
Senang sekali mengebut dengan motor koplingnya yang besar dan trendy. Tentu pada jalur yang semestinya. Bukan di jalan raya dengan gaya ugal-ugalan dan membahayakan nyawa orang. “Mengebut itu panggilan jiwa!” katanya suatu hari pada dua adik tirinya saat mereka saling melakukan pendekatan. Prita dan Sarah hanya saling berpandangan cemas mendengar pernyataan kakak tirinya itu.
Suatu malam saat menolong Prita mengambil uang di ATM, Ella mengebut sepanjang jalan hingga menabrak seekor tikus got yang melintas.
“Ya Tuhan! Maafkan Kak Ella!” teriak Prita saat itu juga.
“Kenapa Prit?” Ella buru-buru mengurangi laju motornya.
“Kakak barusan nabrak tikus tuh, ngeri banget rasanya!”
“Lah, tikusnya dong yang salah, masa ada motor dia malah nyebrang?” jawab Ella santai.
“Yah, namanya juga binatang Kak, nggak punya otak,” Prita mengingatkan.
“Nah, makanya, jangan sampai kita nggak punya otak. Nanti kayak tikus,” sahut Ella.
“Looh, kok jadi gue yang diingetin? Yang ngebut kan Kakak,” protes Prita.
“Memang harus begitu kan? Saling mengingatkan…”
“Au’ ah elap!”
“Hahaa…”
***
Ogi dan Ersa, sahabat dekatnya di sekolah, seringkali menasehati supaya Ella mengganti jenis motornya yang lebih pantas buat seorang perempuan. Tapi…
“Nggak!” tolaknya ketus. “Hanya seorang pangeran yang bisa merubah kebiasaan gue kelak. Kalian diam sajalah, atauuu…!” Ella bernada meledek dua sahabat dekatnya itu.
“Iya deh, jangan! Jangan loe bosen nraktir kita yah…” Ersa memohon.
Sementara Ogi terlihat getok-getok meja sambil komat-kamit, “Jangan sampe… jangan sampe… tok tok tok tok tok tokkk!”
“Eh, tapi yang satu ini loe harus tau La, Rio si ketua OSIS ganteng itu besok sabtu ngadain acara puncak buat aktifis ekskul yang berprestasi,” kata Ersa penuh semangat.
“Trus apa hubungannya sama gue?”
“Ya, elo kan kemaren abis dapet perunggu di kompetisi Tae Kwon Do, pasti loe diundang. Dan yang lebih penting dari itu, loe bakalan klepek-klepek deh liat Rio!”
“Yang bener loe Sa?” Ella melotot.
“Potong kuku gue nih kalo omongan gue bohong!” kata Ersa meyakinkan.
“Iih, emang gue tukang salon? Ya udah, buruan kasih tau tampang si Rio yang kata loe ganteng itu!”
“Tuh, si Ogi suruh cari tau dulu, orangnya ada di ruang OSIS nggak?” usul Ersa.
Ella pun lalu menyuruh Ogi ke ruangan OSIS yang tak jauh dari kantin. “Kalo orangnya ada, loe jempolin kita dari sana ya!” pesan Ella pada Ogi yang terkadang bolot.
”Oke. Kalo nggak ada berarti kita balik ke kelas ya?” sambung Ogi polos.
“Eet dah, loe tanya dong sama yang di dalem ruangan itu, kemana tuh ketua OSIS, dasar bolot!” Ogi tak banyak kata, ia cepat meluncur mencari tahu.
Tak lama Ogi memberi jempol pada Ella, pertanda bahwa Rio berada di tempat. Ella dan Ersa langsung menghampiri ruangan itu. Keduanya agak sungkan, karena mereka sama sekali tak pernah berkunjung ke situ. Matanya mencari sosok Rio dari jendela. Mudahlah! Bukankah dia yang paling ganteng seruangan itu?
“Waduh, tu cowok bapaknya tukang bangunan juga apa ya?” seru Ella pelan.
“Kenapa La, loe kenal bapaknya? Bapaknya temen Papi loe?”
“Enggak, kok rasanya jantung gue ada traktor yang ngacak-ngacak nih!”
“Deeeu… kirain apaan.” Ersa mencibir.
“Trus trus… Emaknya yang buka salon di seberang sekolahan bukan, ya?” lanjut Ella.
“Kenapa lagi La? Loe pernah ke salon Emaknya?” tanya Ersa mengulang keluguannya.
“Enggak, kok hati gue rasanya jadi adem kayak rambut abis dicreambath gitu,”
“Hallah!” Ersa makin kesal.
“Ng… apa dia juga kerja sambilan di toko bunga ya?” lanjut Ella masih takjub.
“Koq dada gue berbunga-bunga nih,” kali ini Ersa langsung nangkep. “Prett! Norak loe ah!”
“Yeee, loe yang tega, masa baru bilang yang beginian sama gue? Dah sana, masuk duluan!” Ella memberi instruksi.
***
“Permisi… mau tanya dong, untuk kepastian acara puncak hari sabtu, apakah sudah positif?” tanya Ersa memberanikan diri ke dalam ruangan.
“Positif. Datang ya? Perwakilan dari ekskul apa nih?” si ganteng balik bertanya.
“Tae Kwon Do,” Ella membuka suara, disusul pandangan takjub Rio seketika.
“Oh… ng,” si ganteng membuka daftar aktivis ekskul di komputernya. “Cinderella ya?” tanya Rio ke arah Ella.
Yipppieee. Si ganteng menyebut namanya! Upst. Ella mendadak jaim sambil mengangguk kecil berulang-ulang.
“Wah, cantik! Sesuai namanya.” Wiiih, nggak nyangka si ganteng bilang begitu.
“Selamat ya!” Rio menyodorkan tangannya pada Ella. Tapi Ersa buru-buru nyerocos, “Eits… salamannya besok aja di panggung! Udah La, cabut yuk, makasih ya infonya!” Ersa menarik tangan Ella meninggalkan ruangan.
“Eh, buru-buru amat sih!” teriakan Rio tak dipedulikan Ersa yang sudah berhasil menarik Ella pergi. Tak lupa, Ogi membuntuti di belakang. Maklum, buntut!
Tepat di mading sekolah mereka berhenti, dan di situ ada pemberitahuan tentang malam apresiasi.
“Huuu, ngapain juga tadi tanya-tanya ke ruangan OSIS segala, di sini informasinya jelas kok!” Ogi memelototi pamphlet di hadapannya.
“Eh bolot, tadi kan demi memenuhi keinginan Cinderella tuuh…” Ersa masih sewot.
“Hussh, liat nih, acara malam apresiasi ada temanya! Bagi rekan-rekan yang hadir harap menggunakan kostum pesta. Ihh! Bukan gue banget deh,” Ella mendadak manyun.
“Walah! Tomboy kayak elo aja punya baju pesta! Hahaa…yang ada baju balapan!”
“Hhhh! Jangan salah loe… demi Rio, kayaknya sih bolehlah dicoba, toh badan gue nggak kalah ramping sama dua adik tiri gue yang biang pesta.” Iih… nggak mau modal.
***
“Prit, pinjem baju pesta dong!” Ella nyelonong masuk ke kamar adiknya.
“Boleh, ambil aja!” jawab Prita mempersilakan kakak tirinya memilih sendiri.
“Rok lebar selutut ini atasannya yang mana?” tanya Ella saat tertarik dengan satu model rok mini yang megar.
“Oh… itu, pakai ini!” Prita meraih stelan t-shirt dan sweater tipis. “Tapi kayaknya rok itu udah kendor karetnya Kak, harus dikencengin dulu!” usul Prita.
“Nanti dipenitiin aja lah… pake celana jeans cocok nggak nih? Gue kan naik motor!”
“Ya ampuuun, naik mobil dong Kak, sekali-kali!”
“Udah, loe tunjukkin aja celana yang pas buat gue pake, nggak usah usul yang lain-lain!” sahut Ella tegas.
“Hmmm, kalo celana, Sarah yang punya tuh, dia banyak koleksi legging! Gue mah nggak ada.”
“Bilangin Sarah gih, gue pinjem leggingnya gitu. Gue tunggu di kamar loe aja ya!”
Beuh… Kakak apa mandor? Untunglah Prita penurut. Ya, memang begitu yang disarankan Papinya, kalau mau akur sama Kak Ella ya harus menurut, termasuk disuruh anterin jaket-jaket dekilnya ke laundry! Alamak, kelewatan banget si Ella deh.
Akhirnya dapet juga stelan baju pesta. Lumayan… nggak perlu beli. Bukannya nggak ada uang bo! Mending buat beli bensin atau nraktirin dua kurcacinya di sekolah, hihiii. Dasaaarr Ella!
***
Lapangan olah raga yang berubah wujud menjadi ajang pentas apresiasi malam itu benar-benar semarak dengan penampilan seluruh penghuni sekolah yang berkostum pesta. Panggung sudah ramai dengan grup band yang unjuk kebolehan, melayani request penonton untuk membawakan lagu-lagu bertema ceria. Masih didampingi dua sohibnya, Ella duduk di barisan pinggir. Tiba-tiba Rio menghampiri.
“Halo tuan putri, kirain nggak dateng!”
“Eh, elo, kok sempet-sempetnya sih deketin kita? Bukannya ketua duduk di depan sana?” selak Ersa setengah teriak.
“Ohohooo, justru jadi ketua ya santai dong, semua panitia kan sudah bagi-bagi tugas sebelum hari H. Sekarang gue bebas mau ngapain aja!” Ella tak menggubris ucapan dua makhluk di depannya itu, sementara Ogi sedang tebar pesona di hadapan cewek-cewek lain.
Tapi mata Ella tak berhenti memperhatikan Rio yang terlihat aneh, seperti ada yang mau disampaikan. Kalau enggak, ngapain Rio ambil posisi duduk di dekatnya? Ya Tuhan, andai Ersa bisa tenang sedikiiiit aja! Biar Rio dapet kesempatan buat menyampaikan sesuatu.
“Cinderella…” bisik Rio mencuri kesempatan saat Ersa lengah.
Ella pun mendekatkan telinganya ke Rio di tengah suasana remang dan musik panggung yang amat bising.
“Nanti pulang bareng ya!” tawar Rio pelan. Ella membalas dengan gelengan kepala.
“Kenapa?” Rio merasa harga dirinya jatuh.
“Gue bawa motor.” Jawab Ella singkat.
“Nggak percaya!” balas Rio cepat.
“Hmmm… kebetulan motor gue dipasang alarm sama Papi, ini remotnya. Kalo nggak percaya, loe pencet sendiri dan arahkan ke parkiran sana!” Ella menyerahkan remot control motornya pada Rio.
Dengan penuh heran Rio meraih remot alarm yang disodorkan Ella. Ia menekannya dengan ragu. Tak lama terdengar nguing-nguing dari tempat parkiran dengan sinar lampu motor Ella yang berkelap-kelip.
“Gilaaa! Tiger 2000? pake alarm pula?!” Rio takjub seorang diri.
“Biasa aja dong, jangan pake melotot gitu!” gurau Ella.
“Enggak papa sih, sumpah gue kaget aja liat cewek secantik loe pake motor kopling. Apa nggak pegel?” tanya Rio di sisa-sisa ketakjubannya.
“Udah biasa kok. Kalo pegel-pegel tinggal suruh Mbok Nah pijitin,” jawab Ella santai.
“Waah, kapan-kapan pinjam Mbok Nah ya, boleh nggak?”
“Boleh… asal tahan banting aja loe!”
“Memangnya ada acara dibanting-banting?”
“Ya, begitulah. Karena beliau gue jadi berprestasi di Tae Kwondo. Medali di rumah sudah lengkap, ada emas, perak dan malam ini gue terima penghargaan di acara loe karena mendapat perunggu di kompetisi kemarin.”
“Hah! Itu mijit apa bertarung? Kok rusuh begitu?” sentak Rio.
“Hahahaaa…” Ella hanya membalas dengan khas tertawanya.
Rio memandang dalam-dalam gadis perkasa di sampingnya yang tampak anggun dengan kostum malam itu. Membuat Ella salah tingkah dan buru-buru menata duduknya sewajar mungkin.
“Kenapa si, ngeliatinnya kok gitu. Naksir?” Ella merasa bibirnya meluncurkan kata-kata begitu saja.
“Hehee. Kalo iya gimana?” Rio menjawab spontan sambil garuk-garuk.
“Kirim friend request !”
“Hahaaa… langsung diconfirm ya!”
“Siip lah !” keduanya tertawa lepas tak menghiraukan lagi wajah Ersa yang penuh tanda tanya melihat keakraban mereka berdua.
***
Puncak acara pun tiba. Rio mohon diri pada Ella untuk bersiap naik ke atas panggung. Masing-masing ekskul sudah dipanggil satu-persatu. Paskibra yang juara umum lomba Upacara, lalu KIR dengan prestasinya di ajang karya ilmiah, ada juga Himpunan pecinta alam yang memiliki tim panjat tebing terbaik dan beberapa ekskul lain dengan prestasi masing-masing, tak ketinggalan Ella mewakili ekskul Tae Kwon Do.
Seluruh aktifis calon penerima penghargaan telah memenuhi panggung. Tapi… kenapa tiba-tiba rok yang dipakai Ella merosot? Ah! Penitinya copot. Glekk! Duhai penitiii, di manakah gerangan dikau? Hiks! Ella mendadak pucat pasi. Untunglah ia berada di barisan terakhir. Rok yang tak bersahabat itu ditinggalkannya di atas panggung. Ia terjun turun dari belakang panggung. Nekat!
Dari jauh Ersa terbengong-bengong melihat Ella menghampirinya.
“Loh, kok turun? Piagamnya…” Ersa belum selesai bicara sudah ditarik Ella meninggalkan panggung.
“Kabur yuk! Rok gue kedodoran! untung gue pake leggingnya Sarah. Sial! Memalukan dunia Tae Kwon Do aja!”
Setelah semua perwakilan ekskul memperoleh piagam penghargaan, satu persatu mereka turun dari panggung. Dan sehelai rok pink tua menyala pun menjadi perhatian Rio yang turun belakangan.
“Hm, seperti pernah lihat rok ini. Tapi di mana ya?” Rio membolak-balikkan rok megar itu dan mengingat-ingat hingga kepalanya pening.
“Panitiaaa! Cari tau segera! Siapa pemilik rok iniii!”
Bwuahahahaaa…
–*selesai*–

Lebih Kenal Lebih Dekat Dengan Peraih Wall of Fame WR I (periode April-Juni 2012)

Semangat Pagi dan Semangat Menulis!

Ini dia yang ditunggu-tunggu! Sesi tanya jawab kepada writer yang terpajang di Wall of Fame WR I. Tujuan tanya jawab ini selain untuk mengenal lebih dekat adalah untuk berbagi ilmu kepenulisan. Nah, simak beberapa pertanyaan yang sudah kami himpun selama beberapa hari ini.

Tanya: gimana sih jadi istri yang baik? (Va Ayana Lubis *belajar jadi istri dan penulis yang baik nih dia ceritanya ^_^)

Jawab: Jadi istri yang baik itu ya harus rajin sholatnya. Sholat kan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jadi, ujian hidup macam apapun bisa terlewati. Terlepas dari benar dan baik, kadang jadi istri yang baik itu harus berani “salah” juga selama itu kita pertanggungjawabkan. Tinggal minta maaf aja kalo kesalahan kita bener-bener vatal.

Tanya: gimana sih mbak bagi waktu nulis dengan segudang aktivitas yang mbak miliki? (Va Ayana Lubis)

Jawab: Nah, ini yang paling dilematis!Aku bener-bener bingung juga kalo mikir buat ngejawab pertanyaan macam ini. Kalo mau jawaban yang diplomatis, standarnya kita ngerjain tugas rumah dulu biar tenang ya, baru bisa nulis. Tapi faktanya, aku bahkan bisa kok, nulis sambil mondar mandir ke dapur, secara di dapurku itu selain ada kompor, ada juga mesin cuci yang siap muterin baju-baju kotor, juga tempat cucian piring yang numpuk kayak gedung kantor berlantai puluhan, bahkan laptopku sering ada di samping saat aku menyetrika. Wah, pokoke jungkir balik, salto, nyungsep… dah nggak karu-karuanlah.

Jujur aku nggak pandai mengatur waktu. Yang aku lakukan selama ini seperti nekat. Coz aku memang bukan penulis yang bener-bener hebat. Malah aku suka nggak peduli sama keributan anak-anakku di kamarnya kalau ide udah harus tertuang saat itu juga. Kalau sudah selesai, barulah aku datangi mereka, mencari tau ada apa tadi sampai gedebak-gedebuk, cekakak-cekikik heboh banget. Palingan mereka Cuma jawab
“Bercanda Buuuun, jangan sensitip dong ahh!”
haddeeehhh… ini dia nih, nikmat yang nggak pernah brenti aku syukuri. Mana ada yang kayak aku gini kan? Sok atuh dilacak…

Karena itulah… keseharianku sebetulnya sudah begitu lelah… Kadang masih memaksakan diri mengejar detlen yang udah mepet banget sampai tengah malam. Akhirnya, pagi-pagi aku lesu sekali.

Hari minggu buatku adalah hari memanjakan diri. Jujur aku nggak pernah tertarik dengan keramaian apapun di luar rumah. Aku cuma pengen istirahat. Tidur. Kalaupun aku harus menyukai dunia luar. Pilihanku cuma dua. Toko Buku sama Bioskop. Tapi itu pun jarang sekali kudatangi. Karena aku bukan rakyat ekonomi menengah, apalagi atas, yang kadang harus mikir berkali-kali buat mengeluarkan uang.
*detlen?
kesannya udah kayak penulis beken ya? detlen yang kumaksud adalah ajang pengasahan diri saja… bukan sebuah target kemenangan buat aku menjadi seorang penulis yang sesungguhnya. seperti perjalanan hidup yang selama ini selalu melibatkan kata hatiku, maka untuk meraih impian sebagai penulis pun aku coba mengikuti kata hati… sekiranya ada info lomba yang aku sanggupi untuk ikut memeriahkan event-nya, maka detik itu pula aku bulatkan tekat untuk ikut. Dua jam aku bisa rampungkan tulisan karena begitu semangatnya menuturkan kisah yang sesuai dengan tema lomba. Selanjutnya tinggal diendapkan beberapa hari sambil diedit sana sini. Sengaja aku tempa diri seperti itu… meski agak terkesan maksa atau sok penulis banget… aku nggak pernah peduli. Lama-lama, Tuhan juga anugerahkan kita kemampuan. Paling enggak, semangat yang terus berkibar untuk tetap menulis.

Tanya: gimana caranya biar bisa gila mba? *edisi selalu gagal bikin cerita lucu (Rik Sjp)

Jawab: caranya ya rajinlah mengungkap kejadian-kejadian konyol yang bisa ngundang orang ketawa. Buat ngukur tingkat kelucuan tulisan kita juga bisa dipraktekan sendiri. Apakah kita bisa tertawa? kalo iya, berarti lumayan dah berhasil…

Misalnya menulis kelucuan begini:
Suatu hari saya melihat barisan perempuan sedang diperiksa Pak Polisi di sebuah lokalisasi PSK. Mereka ditanya satu pesatu tentang motivasi menjadi PSK. Jawaban mereka pun hampir sama. Yakni karena himpitan ekonomi. Tiba-tiba ada seorang nenek-nenek pengemis yang penasaran dengan keramaian di tempat tersebut. Saya bilang saja, “Lagi ada pembagian cokelat, Nek!” Lalu nenek itu ikutan berbaris, berharap bisa mendapatkan cokelat juga.
Setelah tiba gilirannya dipanggil, pak polisi pun bertanya:
“Ini lagi, nenek-nenek pake ikut-ikutan jadi PSK segala. Buat apa sih, Nek?”
Nenek itu menjawab lugu,”Ya, lumayanlah Pak buat diisep-isep! Maklum… udah lama nggak ngerasain yang begituan.”

Hihihiiii ^________^

Menurut aku, Gila yang dimaksud itu kan bahasanya digaulkan menjadi Gokil alias Kocak atau lucu…
Jadi, buat bisa gila, jelaslah orang tersebut bukan orang yang latar belakangnya pendiam, introfert (kalo nggak salah, ya) atau temennya bisa dihitung. Pastilah orang yang punya bakat gokil itu temennya banyak. Coz dia nggak pilah-pilih teman dalam hidupnya.

Percaya nggak? semasa remaja dulu, aku punya teman dari kenalan di halte, bis, terminal, bahkan supir angkutan. Latar belakang temanku juga beragam. Dari mulai anaknya Kiyai, dokter, guru, pedagang, sampai petani buah-buahan…Bahkan aku pernah dilamar sama juragan Duren dari kampung manaaa gitu. Sampe sekarang orangnya masih agak sakit hati karena aku tolak. Hihihiiii… Ya Alloh! Maap…

Tanya: apa nulis gokil itu sudah merupakan passion-nya Mbak Prima? (Andri Surya)

Jawab: Wah kalau itu aku juga masih bingung, soalnya aku juga sering nulis yang nggak gokil gitu sih. Cuma…. memang keasyikan menulis genre gokil itu lebih kalau dibandingkan dengan menulis yang nggak gokil. So? Kita bungkus aja kalau passion ku nulis gokil ya? Bungkuuus! ^_^

Gimana warga WR semua? Jadi kenal dekat kan dengan penulis gokil yang satu ini? Selain kenal akhirnya kita juga bisa belajar sedikit mengenai dunia kepenulisan bahkan belajar menjadi istri dan ibu yang baik juga loh.

Semangat Pagi dan Semangat Menulis!

Wall of Fame WR I (Periode April-Juni 2012)

Semangat Pagi dan Semangat Menulis untuk Warga WR!

Bagaimana kabar warga WR semua? Kami doakan sehat dan selalu semangat menulis. Nah, kalau pada postingan sebelumnya ada program baru yaitu “Pameran Buku WR I” sekarang kami juga masih akan hadir dengan program baru yaitu “Writer Wall of Fame WR I”. Program apakah itu gerangan? Program ini adalah program pemilihan warga teladan yang dilakukan oleh group tertutup WR I dibawah naungan SMCO Writing Revolution. Untuk memilih warga teladan tersebut dilakukan proses voting. Program ini sendiri akan dijalankan 3 bulanan dan untuk periode perdana ini tahtah akan dipegang hingga bulan Juni 2012.

Siapakah sosok yang terpilih menjadi Writer Wall of Fame WR I untuk periode April-Juni 2012?

Kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah inilah dia ”Prima Sagita”.

Prima Sagita

Sepertinya tidak lengkap kalau kita tidak mengenal sosok perempuan yang satu ini. ”Tak kenal maka tak sayang” begitulah kira-kira, jadi yuk langsung saja kita kenal lebih dekat dengan penulis yang menurut warga wr merupakan penulis gokil ini.

Prima Sagita merupakan nama beken dari penulis ini. Saat ini ia menjabat sebagai WKK WR (Wakil Kepala Kampung Writing Revolution). Selain sibuk sebagai penulis, ibu 2 orang putra ini juga berprofesi sebagai pengajar bimbel dan ibu rumah tangga. Wah, kebayang betapa sibuknya ibu yang satu ini ! Walaupun sibuk ia tetap menyempatkan untuk menulis secara konsisten. Hasilnya, coretannya tergabung dalam beberapa antologi seperti Antologi Curcol Konyol,

Antologi Guru Kehidupan,

Antologi Kisah Saat Buah Hati Sakit,

Antologi Kisah Cinta Salah Sambung,

dan masih banyak lagi.

Di kalangan warga Writing Revolution sendiri penulis ini dikenal dengan tulisan-tulisan gokil namun penuh hikmah. Seringkali tulisan-tulisannya membuat warga tersenyum dan tertawa. Jadi kalau lagi bete atau nggak mood boleh tuh baca-baca karya Prima Sagita. Beberapa alasan mengapa penulis ini terpilih adalah karena sikap dewasa yang ia tunjukkan. Perjuangannya buat tetap mengeksiskan WR semenjak terjedi gejolak pun patut diacungi jempol. Tentu saja, keeksisannya di Balai Desa Kampung WR dan Kampung WR I menjadikan ia dikenal. 

Nah, itu dia sedikit mengenai profil writer yang terpilih di Wall of Fame untuk periode April-Juni 2012. Untuk mengenal lebih jauh lagi mengenai penulis ini ada juga sesi tanya jawab warga WR I di postingan selanjutnya. Tunggu ya ^_^

Semangat Pagi dan Semangat Menulis!

 

Pameran Buku April 2012: Pelangi Abu-Abu

Semangat Pagi untuk warga WR semua khususnya warga WR I !

Setelah sekian lama blog revo satu vakum akhirnya kami kembali dengan agenda-agenda baru yang lebih fresh (sambil pegang sapu dan kemoceng ^_^). Salah satu agenda revo satu adalah “Pameran Buku Warga WR I”. Di postingan perdana ini akan ada satu buku yang bakalan dipamerin. Buku siapa yang beruntung akan dipamerin pada postingan perdana ini?

Judul buku yang akan kita bahas kali ini adalah “Pelangi Abu-Abu” yang merupakan karya kasuk WR I (Kepala Suku Kampoeng Satoe). Penulis memiliki nama pena Rik Sjp dan menjabat sebagai kasuk WR I periode 2011-2012. Karena ini adalah postingan pertama setelah mati suri maka kami ingin menyajikan sesuatu yang ringan namun menarik. Bagi warga Writing Revolution yang masih SMA dan mencari bacaan yang fresh maka buku ”Pelangi Abu-Abu” dapat dijadikan referensi. Nah sebenarnya bagaimanakah proses kreatif hingga terciptanya ”Pelangi Abu-Abu” ini?

Kami berhasil mengorek sedikit mengenai buku ”Pelangi Abu-Abu” ini langsung dari penulisnya. Menurut si empunya, buku ini bercerita mengenai kehidupan remaja khususnya anak SMA. Kalau bicara soal masa-masa SMA, maka sebagian dari kita sepakat bahwa masa inilah masa yang paling indah, bener nggak? Masa SMA itu banyak polemik mulai dari pertemanan, guru, sekolah, sampai masalah yang paling rumit tapi paling seru yaitu cinta. Rik Sjp mencoba merekam jejak polemik tersebut melalui cerita apik di buku ”Pelangi Abu-Abu” ini. Ia mencoba mengeksplorasi rasa perubahan tersebut dengan menonjolkan berbagai karakter yang ada dalam diri seorang remaja. Ia paham benar bahwa remaja memiliki berbagai gejolak emosi dalam menyikapi masalah (tentunya, ia sendiri pernah mengalami masa-masa ini ^_^). Jadi, ia mencoba mengeksplore karakter tokohnya untuk tidak menjadi superhero.

Pelangi Abu-Abu mengisahkan tentang empat orang sahabat yang saling membanggakan hobinya masing-masing. Ada tokoh bernama Alko yang gandrung dengan yang namanya sepak bola bahkan saking gandrungnya ia menjadi kapten tim di sekolahnya. Ada juga Maylodi yang suka banget yang namanya gosip artis. Maklum, dia adalah penyiar radio yang harus terus update berita-berita terkini untuk menyokong profesinya. Bagi anggota pecinta alam, dalami tokoh Taufik yang merupakan ketua SISPALA. Baginya alam adalah tempat terbaik dari segalanya. Tokoh terakhir bernama Putrari yang punya hobi menulis dan menbaca. Obsesi terbesarnya adalah menjadi penulis terkenal.

Mereka berempat adalah teman satu kelas di SMANSA. Masalah muncul dengan hadirnya Friska, cewek manis pindahan SMA Jakarta. Cewek manis ini sangat menyukai bola, bergiat di alam bebas, suka nulis juga bahkan ia senang membaca puisi, novel, dan komik. Tak hanya itu, Friska juga piawai dalam memainkan alat musik dan mengikuti perkembangan gosip selebritis. Singkatnya, dia perfect banget deh! Persaingan Alko, Taufik, dan Putrari memperebutkan Friska dimulai. Tapi sepertinya persaingan mereka juga harus terganjal dengan datangnya Randi, cowok yang jago gambar dan musik, yang juga punya niat yang sama seperti mereka bertiga. Selain itu, konflik antara Friska dan Maylodi membuat cerita ini semakin seru. Maylodi pun tak kalah ruwetnya karena harus berhadapan dengan rekan sesama penyiarnya. Lalu, pertanyaannya adalah siapa yang menjadi pilihan Friska? Tentu saja jawabannya dapat dibaca dibuku ”Pelangi Abu-Abu” karya Rik Sjp ini ^_^

Kisah cinta yang rumit namun seru itu dibumbuhi dengan beberapa keunikan. Contohnya, Rik Sjp mencoba memperkuat setting tempat terjadinya peristiwa. Selidik punya selidik, ternyata setting tempatnya adalah sekolah asal penulis sendiri di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Yang paling menarik adalah adanya gambar peta dan dena lokasi kotanya di buku tersebut.

”siapa tahu ada yang mau main ke sana setelah membaca buku ini,” candanya.

Panorama yang indah seperti Gunung berapi tertinggi di Indonesia (Gunung Kerinci), danau tertinggi di Asia Tenggara (Danau Gunung Tujuh), dan danau yang diapit 7 buah gunung ingin ditunjukkan oleh penulis kepada pembacanya. Walaupun terpencil, namun banyak sekali tempat-tempat yang layak untuk dikunjungi.

Penulis mengaku bahwa proses penulisan ”Pelangi Abu-Abu” tidak terlalu lama hanya sekitar 3 bulan saja. Ia mencoba konsisten dengan menulis setiap hari namun kendala pengeditan yang membuat buku ini selesai agak lama. Idenya pun muncul dari mana-mana. Rik Sjp menggabungkan antara kisah pribadi, teman, dan hasil perenungannya saat celingak-celinguk di lingkungan sekitar ^_^

”Remaja itu memiliki potensi yang sangat besar untuk maju. Jangan kalah ama tetek bengek yang bakalan merusak masa depan kita sebagai remaja, so maju terus pantang mundur!” katanya di akhir sesi wawancara

Pelangi Abu-Abu.

Nah, kira-kira itu sekelumit mengenai ”Pelangi Abu-Abu” karya Kasuk WR I, Rik Sjp. Semoga kita dapat mengambil manfaat dari buku ini. Buku siapa yang akan kita pamerkan bulan depan? So, just wait and see karena bakalan ada buku-buku WR I lainnya yang lebih seru. (ASP)

Semangat Pagi dan Semangat Menulis untuk warga Writing Revolution!

Aku dan Kemat

“Din, tolong gantiin bapak kerja ya hari ini? Bapak tidak enak badan,” kata bapak yang berbaring di tempat tidurnya.

“Oh iya pak, bapak istirahat saja dulu biar Udin yang kerja hari ini,” jawabku sambil mulai menyiapkan semua perlengkapan kerja yang biasa dibawa oleh bapak.

Aku sendiri sudah sering menggantikan bapak bekerja jika bapak sedang lelah atau sakit seperti sekarang ini. Kami hanya hidup berdua semenjak ibu meninggal. Untunglah walaupun kehidupan kami susah aku masih bisa sekolah di SMP Terbuka Sinar Harapan.

“Kamu mangkal saja di tempat biasa, di situ ramai Din,” pesan bapak.

“Iya pak, Udin rencananya memang mau mangkal di sana saja,” aku menjawab.

Bapak membalasnya dengan anggukan. Aku mulai menyiapkan perlengkapan wajib saat bekerja seperti gendang kecil, sepeda mini, reog kecil, dan gerobak kecil. Aku menata semua perlengkapan itu dengan rapi di kotak yang akan aku bawa nanti. Capil (topi petani) yang menjadi ciri khas bapak dalam bekerja pun aku pakai. Tentunya aku tidak lupa membawa Kemat ikut serta. Kemat dibawa pulang oleh bapak sekitar 1 tahun yang lalu. Aku masih ingat ketika bapak dengan senyuman lebarnya membawa Kemat pulang.

“Punya siapa ini pak?” tanyaku.

“Ini punya bapak, bapak akan melatihnya biar bisa bantu bapak cari uang,” bapak menjelaskan dengan penuh semangat.

Selama hampir 6 bulan bapak melatih Kemat tiap hari. Aku pun diajaknya untuk melatih Kemat. Karena itulah aku menjadi akrab dengan Kemat. Jika ada waktu luang pasti aku bermain dengannya walaupun ia harus dirantai. Bapak tidak pernah mengijinkan aku melepas Kemat karena takut ia akan lari. Terkadang aku bawakan makanan kesukaannya juga.

”Ayo Kemat kita berangkat,” kataku sambil melepas ikatan Kemat.

”Nanti kamu harus beraksi dengan bagus biar penonton ngasih uang lebih,” tambahku lagi. Kemat hanya memandangiku sambil menggaruk bulunya.

Hari ini hari sabtu karena itu alun-alun kota sangat ramai. Bagi kami inilah kesempatan untuk meraup untung besar. Sesampainya di tempat biasa kami mangkal aku menaruh semua pelengkapan. Aku mengeluarkan kursi lipat dan gendang kecil yang merupakan senjata andalanku.

”Mat, kamu harus tampil bagus ya. Lihat banyak orang yang pingin lihat kamu beraksi,” kataku meyakinkan Kemat walaupun ia tak tahu apa maksudku. Lagi-lagi ia hanya memandangku seperti biasa.

Kupukul gendang itu dengan keras dengan nada yang diajarkan bapak. Kemat yang tadinya diam langsung tergugah oleh alunan itu. Ia bagaikan prajurit yang siap maju ke medan laga. Pengunjung alun-alun pun mulai memperhatikan kami. Topeng monyet memang hiburan yang sudah sulit dijumpai. Hanya sedikit orang yang mau bertahan karena pada akhirnya ia akan memjual monyetnya dan mencari usaha baru.

“Kemat pergi ke pasar!” teriakku.

Kemat langsung mengambil keranjang kecil dan menentengnya berlagak seperti orang kepasar. Kakinya melangkah sesuai dengan irama gendang yang bertalu-talu. Aku hanya terseyum melihat Kemat yang dengan lihainya memainkan peran demi peran. Reaksi anak-anak pun beragam, ada yang senang, tertawa, dan bahkan ada pula yang menangis ketakutan.

Menjelang Magrib aku dan Kemat mengakhiri pertunjukkan. Aku membawa Kemat menepi dan mencari tempat untuk beristirahat. Kukeluarkan semua hasil yang kuperoleh hari itu dan segera menghitungnya. Keringat dan rasa lelah tak lagi kurasa.

”50 ribu… 100 ribu… Wah 100 ribu Mat!” teriakku kepada Kemat.

Kemat tidak bereaksi. Ia hanya bersandar di atas kotak perlengkapan panggung kami. Kupikir Kemat lelah karena ia bermain bak anggota sirkus ternama. Buatku sendiri, uang 100 ribu sangatlah berarti karena hasil ini tidak seperti biasanya.

”Terima kasih ya Mat, nanti kubelikan pisang yang enak buat kamu,” Kataku tersenyum lebar sembari mengelus bulu halus Kemat. Aku bergegas melangkahkan kaki menuju rumah dan tak lupa membeli pisang untuk Kemat.

Sesampainya di rumah kuikatkan rantai Kemat dan kumasukkan Kemat ke dalam kotak kayu yang merupakan rumah sehari-harinya. Setelah itu segera kumasukkan beberapa buah pisang untuk makan malamnya. Aku melangkahkan kaki dengan cepat menuju rumah untuk memberikan hasil hari ini kepada bapak.

”Baru pulang Din?” tanya bapak.

”Iya pak, hari ini ramai banget. Ini hasil hari ini,” jawabku menggebu.

Bapak segera menghitungnya dengan seksama. Ia memilah uang kertas dan recehan itu sambil komat-kamit.

“Wah banyak juga Din hari ini,” jawab bapak senang.

“Iya pak, itu sudah kukurangi untuk membeli pisang buat Kemat,” kataku membalas senyuman bapak.

”Besok biar Udin yang kerja lagi pak,” tambahku semakin menggebu.

”Hmm… ya nggak apa-apa kalau kamu nggak capek,” kata bapak.

Aku menjawab dengan gelengan bahkan aku sudah tidak sabar menanti besok karena aku bisa bermain dengan Kemat, bermain sambil bekerja tepatnya. Aku berjanji dalam hati bahwa besok akan mendapatkan hasil banyak lagi kalau bisa lebih dari hari ini tentunya dengan bantuan Kemat. Malam itu aku tidur nyenyak sekali tak kurasakan lelah yang biasanya menyergap.

***

Mentari pagi menyingsing dengan indahnya seolah mendukung suasana hatiku yang gembira. Aku lebih senang lagi karena hari ini langit cerah, tak ada tanda-tanda akan turun hujan.

Aku memulai menyiapkan semua perlengkapan seperti kemarin. Tak lupa kukenakan capil kebanggaanku dan bapak di kala beraksi menghibur penonton. Setelah memastikan bahwa semua perlengkapan sudah kubawa aku bergegas menemui Kemat.

”Mat ayo kita berangkat dan beraksi seperti kemarin,” Perintahku sambil melepaskan rantai Kemat yang terikat di pohon.

”Mat…?” aku memanggilnya dengan tanda tanya karena ia tidak bergerak keluar seperti biasanya.

Segara saja aku melihat dan meraba kotak rumah Kemat itu. Kemat masih ada tapi anehnya badannya kaku dan dingin. Pisang kesukaannyapun tidak di sentuhnya sama sekali. Aku mundur beberapa langkah dan menjatuhkan kotak perlengkapan. Aku masih mengira dan tidak percaya.

”Ada apa Din?” bapak yang terkejut mendengar suara kotak perlengkapan topeng monyet bergegas keluar.

Aku tidak menjawabnya. Aku hanya terdiam, kakiku gemetaran, dan tubuhku lemas. Aku tak menjawab pertanyaan bapak karena aku mencoba menahan air mataku bahkan pandanganku mulai tidak jelas karena berkaca-kaca.

”Ada apa Din?” bapak mengulang kembali pertanyaannya.

Aku yang sudah tak kuasa menahan lelehan air mata akhirnya menjawab juga.   “Kemat mati pak…” jawabku datar.

“Apa? Kemat mati?” bapak yang masih berdiri di pintu rumah segera berlari menghampiri kotak rumah Kemat. Ia mencoba memastikan apakah Kemat benar-benar mati. Tak lama setelah memeriksa Kemat bapak menghela nafas dan mengangguk. Aku yang berdiri memperhatikan bapak bagai tersambar petir. Bagaimana mungkin Kemat meninggalkan aku secepat ini. Air mataku masih terus meleleh bahkan mengalir semakin deras.

“Sebentar bapak ambil cangkul kita kuburkan Kemat,” bapak melangkah dengan wajah dingin.

Aku segera melepas rantai yang ada di tubuh Kemat. Akhirnya aku berhasil menyentuh Kemat tanpa rantai namun di saat ia sudah mati. Kuangkat ia perlahan dan kubelai beberapa kali bulunya yang halus itu.

Beberapa saat kemudian bapak memanggilku karena lubang untuk Kemat sudah siap. Aku merasa berat melepas Kemat pergi karena ia sahabat baikku.

”Sudah Din, masukkan Kemat ke lubang.”

Aku yang masih bercucuran air mata segera memasukkan Kemat ke lubang itu hati-hati. Kulihat bulu halusnya tertimbun tanah basah perlahan hingga akhirnya tak nampak sama sekali.

”Direlakan saja Din, memang sudah waktunya,” jawab bapak setelah selesai menguburkan Kemat.

Bapak mungkin menyembunyikan kesedihannya. Bagi bapak Kemat adalah rekan kerja yang menghidupi keluarganya. Bapak bisa saja memcari Kemat lain besok tapi itu berarti bapak harus memulainya lagi dari awal.

Bagiku lebih dari itu. Selama 1 tahun ini Kemat adalah teman suka dan dukaku. Aku bisa bercerita apapun kepadanya. Ia sudah bagaikan seorang sahabat yang tak tergantikan lagi. Kini tak akan ada lagi Kemat yang piawai memainkan peran-perannya dan mengibur para penonton dengan atraksi-atraksinya.

 

* Salah satu cerpen hasil konsultasi Sekolah Menulis WR online

Update Suasana Kampung

Beberapa waktu yang lalu Kampung Besar Writing Revolution dengan Kepala Kampung Pak Joni Lis Effendi dikelompokkan menjadi warga kampung kecil. Kurang lebih jumlah Kampung saat ini adalah 4 kampung termasuk kami warga kampung Writing Revolution 1 (angka 1 menunjukkan angkatan) yang berjumlah sekitar 53 orang. Program awal setelah terbentuknya kampung kecil WR adalah diadakannya pemilihan aparatur. Alhamdulilah program ini telah dilaksanakan disertai dengan pemilihan yang ketat dan panjang. Mengenai susunan aparatur kampung dapat dilihat pada posting sebelumnya (bahkan sudah pada mejeng semua aparaturnya di blog berkat Rik Sjp yang merupakan ketua suku WR1).

Program kedua yang alhamdulilah juga terlaksana adalah pembuatan blog khusus kampung kecil WR. Blog untuk WR1 adalah http://wr1.wordpress.com/. Blog ini didesain oleh saudara Asep Saeful Ulum yang merupakan anggota Kesi minat kepenulisan WR1. Tepuk tangan untuk saudara Asep karena sudah membuat tempat corat-coret untuk warga WR1.

Program ketiga yang masih dalam proses adalah rencana pembuatan antalogi (antalogi apakah itu?) eitss… itu masih sangat rahasia dan belum terpublikasi sama sekali. Program ini sendiri digagas oleh Ica alifah (Ica bdp) yang merupakan Kesi minat kepenulisan WR1. Sekedar pemberitahuan agar penasaran, program ini sedang “digodok” dengan matang. Rapatnya pun berlangsung sangat panas dan ramai sampai-sampai para aparatur WR 1 memanggil si empunya Kampung Besar tidak lain dan tidak bukan Pak Joni Lis Effendi untuk mencairkan kebingungan tersebut. Penasaran antalogi apa yang akan dibuat oleh Warga Writing Revolution 1? Tunggu saja tanggal mainnya hehehe.

Bagi teman-teman yang penasaran dan ingin ikut membangun misi Writing Revolution yaitu mencetak 1 juta penulis Indonesia 2025 sekaligus menikmati serunya menjadi warga kampung Writing Revolution (SMCO WR) silakan lihat infonya di www.menulisdahsyat.blogspot.com. Kami tunggu dan semoga akan banyak program tulis-menulis yang terealisasikan khususnya dari warga kampung WR 1. Hidup WR1!

 

Wassalamualaikum

Galeri Pejabat WR 01

Joni Lis EffendiJoni Lis Effendi :  Selalu terbuka untuk persahabatan

Kepala Suku Writing Revolution (WR)

 

Rik SjpRik Sjp : ku eratkan genggaman, ku kuatkan pijakkan, ku dengarkan nyanyian semesta dan berteriak selantangnya,, AKU BISA!!!!! (my motto for life)

Ketua RT WR 01

Edelwise Ayyesha TsurayyaEdelwise Ayyesha Tsurayya : ‘be like a bee,, fly like butterfly’

Sekretaris WR 01

Kun Sila AnandaKun Sila Ananda : “I am easy to look at, but so hard to see….”

Bendahara WR 01

Phoenix WibowoPhoenix Wibowo : An attractive young women, humble, full of lile

Kesi Sastra & Kebahasaan WR 01

Andri SuryaAndri Surya : Menulis selalu membuatku ingin bangun tiap harinya karena akan selalu banyak kisah yang bisa diabadikan melalui kata

Anggota Kesi Sastra & Kebahasaan WR 01

Gagas Tri AnggoroGagas Tri Anggoro : Tidak semua orang yang berusaha akan sukses….
TAPI… semua orang sukses berasal dari orang yang berusaha….

Anggota Kesi Sastra & Kebahasaan WR 01

Prima SagitaPrima Sagita : think hard.. pray hard..

Kesi Bakat Kepenulisan WR 01

Putri UtamiPutri Utami : apapun di dpn kita,, hrus ttp smngat n trsenyum.. jdi,,
SEMANGAT YA….!!!

Anggota Kesi Bakat Kepenulisan WR 01

Nur Aisyah SiregarNur Aisyah Siregar : Simple, suka persahabatan, cinta keluarga en moody

Anggota Kesi Bakat Kepenulisan WR 01

Ica BdpIca Bdp : Kekuatan orang2 sederhana hanya bermimpi dan mengupayakan mimpinya menjadi nyata… SmangatZ….!

Kesi Minat Kepenulisan WR 01

Asep Saeful UlumAsep Saeful Ulum : Pantang bicara tanpa ilmu

Anggota Kesi Minat Kepenulisan WR 01

Ellyca SusetyoEllyca Susetyo : yg tw km+jalanin khdpanmu tu km….bkan dia, mreka, atw org lain…..jadi slow down baby….

Anggota Kesi Minat Kepenulisan WR 01

‘be like a bee,, fly like butterfly’putri abung bunga mayang :) )
(dalam pencarian jejak leluhur) 

Quote Menulis 7 April 2011

Menulis selalu membuatku ingin bangun tiap harinya karena akan selalu banyak kisah yang bisa diabadikan melalui kata -Andri Surya-

writing is not my hobby it’s part of my life -Jonru-

Aku menulis bukan karena tuntutan, tapi karena seruan suara hati, oleh karena itulah aku akan tetap menulis, meskipun aku tidak akan jadi penulis -Rik Sjp-

Menulis mengajarkan kita cara untuk menghadapi hidup, ketika kita menulis berarti kita telah belajar untuk menyikapi keadaan -Silfia Elly Oktaviani-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: